My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Sunday, May 31

Deskripsi Kehilangan

Yang paling khas dari orang yang insecure adalah mereka merasa tidak pantas menerima hal baik seperti cinta, kasih sayang bahkan pujian. Akupun merasa sepertinya mustahil bisa mendapatkannya. Tapi buatku, ada orang yang cinta dan sayangnya sungguh terasa tulus. Terasa nyata sampai membuat hidup patut dicoba.

Mamah, yang bahkan senyumannya membuat teduh, memberi segala hal baik pada anak bungsunya ini.

Kehilangan mamah memunculkan ketakutan pada dunia, keraguan dalam melangkah dan kesepian yang menusuk dingin.

Anak yang insecure kehilangan satu-satunya sumber cinta. Membuatnya kembali berada pada dunia penuh kebohongan. Seakan dunia meremukan semua harapan dan menguburnya bersama mamah.

Begitulah rasa sedihnya, rasa terpuruknya ditinggalkan cinta yang ia kira akan selamanya.

Mengikhlaskan mamah bukan hanya ikhlas melepasnya, tapi juga ikhlas kehilangan segala hal yang tulus dan hangat.

Mungkin inilah waktunya bagi sang anak untuk sembuh, untuk merasa bahwa hal baik juga pantas ia dapatkan. Tidak hanya dari mamah, tapi dari banyak orang bahkan dari dirinya sendiri.

Sunday, November 24

Terburuk dari #KehidupanLDM

Aku terus menerus menarik tuas rem, hujan tadi membuat jalanan Sukajadi dilewati air keruh dan membuat kendaraan berjalan pelan seakan takut terbawa arus air yang sebenarnya tak berbahaya karena dangkal dan lambat. Perjalanan pulang menjadi sangat lama, aku sudah tidak sabar membuka paket yang baru sampai rumah siang tadi.

Mainan blind box dari pop mart yang akhir-akhir ini muncul di platform tiktok membuatku menginginkannya. Benda mungil yang sepertinya lucu, lembut dan menggemaskan seakan mengemis memintaku membelinya. Sebagai orang yang sangat selektif dalam membeli barang, tentu mainan yang sebenarnya gantungan kunci ini tidak lolos sebagai barang yang patut dibeli. Tapi semakin hari, semakin termakan egoku oleh video mainan ini. Iseng izin ke suami untuk membeli satu, berharap dia akan melarang ku dan menyuruhku menahan ego. Suami dengan baik hati malah menyuruhku membelinya, cukup dengan syarat aku harus senang. Dalam hitungan menit, gantungan kunci ini sudah dalam proses pengemasan. Dan hari ini, paketnya sampai.

Sungguh, suamiku yang kini berjarak ribuan kilometer bisa selalu membahagiakan istrinya. Jangankan hal-hal kecil, kewajibannya sebagai suamipun bisa ia lakukan dari jauh. Masya Allah, Alhamdulillah. Tapi, bagaimana dengan aku?

Sesaat setelah menikah, dalam diskusi mengenai ber-rumah tangga jarak jauh, aku bertanya bagaimana caraku bisa berbakti pada suami sedangkan kami berjarak? Aku adalah perempuan yang ingin bisa berbakti pada suami. Ingin sekali setiap pagi bisa memberinya secangkir teh hangat atau coklat panas untuk menenangkan perutnya supaya bisa menunggu sarapan yang aku buat. Ingin sekali memberinya piring dengan penuh makanan di setiap jam makannya. Ingin sekali mengemas bekal dan minuman untuk ia bawa ke tempat kerja. Aku hanya merasakan ini selama 1 bulan, sisanya aku hanya bisa meminta maaf karena ia harus melakukannya sendiri.

Setiap malam, sesaat setelah ia sampai ke apartemen, suami selalu menyempatkan melakukan panggilan video. Kadang kami bercerita tentang hari kami, kadang kami hanya memberi kabar sedikit, kadang kami diam-diaman melakukan aktifitas masing-masing, tapi yang selalu aku dengar adalah bunyi perutnya yang merintih kelaparan. Suami terlalu lelah sampai tak sanggup untuk membuat makanannya sendiri. Sering kali ia harus menyantap mie kemasan, kadang ia baru membuatnya jam 11 malam, saat rasa laparnya lebih besar dari rasa lelahnya.

Belum lagi saat ia sakit atau saat ia merasa kesepian diperantauan, aku sungguh tidak bisa melakukan apa-apa. Sebagai istri, aku tak melakukan kewajibanku untuk berbakti padanya. Hal paling menyakitkan yang harus bisa aku terima sebagai istri yang terasa kurang fungsi.

Dalam diskusi waktu itu, "gimana caranya aku bakti sama kamu?" tanyaku. "Percaya sama aku", jawabnya cepat. Karena suami sudah paham, bahwa modal hubungan jarak jauh adalah percaya dan bisa dipercaya, memberinya modal kepercayaan menjadi salah satu kesempatanku untuk berbakti padanya.

Semoga Allah segerakan kami bisa selalu berdekatan. Aamiin
#KehidupanLDM


Friday, November 15

Seperti ini LDM itu #1

Sebelum pulang ke Bandung, aku memaksa untuk meminta parfum yang sering suami pakai agar bisa aku simpan, "biar kalo aku kangen kamu, aku tinggal semprot. So at least i can smell you!". Suami nurut saja dengan berakhir harus membeli botol parfum baru. Memang dasar cinta istri, saat mau merantau lagi berdalih kopernya penuh, suami pun simpan jaket yang sering dia pakai supaya aku bisa pakai kalo lagi kangen. Bener, kan? hahaha

Waktu dan tempat dipersilahkan, kangen itu pun tiba.

11 malam, tiba-tiba nangis sambil bangun dari kasur dan langsung pakai jaket suami sambil semprot beberapa kali parfumnya. Berniat bisa ngurangin kangen, malah lebih menggila. Kalo bisa terbang, terbanglah sudah. Tapi aku hanya bisa nangis sambil cium-cium wanginya.

Ingin telfon suami, tapi ini jam 1 shubuh disana. Aku coba tahan sambil menonton apa saja yang ada di layar handphone, kadang menyelami tiktok kadang swipe story instagram. Tidak pula kangen ini beranjak pergi. Akhirnya, 12 malam, terhitung jam 2 shubuh disana, sambil penuh rasa tidak enak karena pasti akan mengganggu tidurnya, aku melakukan panggilan video padahal tahu betul dia besok masih harus bekerja.

Diangkat, "kenapa?" tanya suami sambil matanya membuka sedikit karena silau layar handphone. Aku cuma bisa diam. "Kenapa mil?", tanya suami lagi saat sadar mata istrinya ini sudah memerah dan air matanya mau tumpah. "Kangennnnnn", kata itu keluar juga.

Nangislah aku sejadi-jadinya sambil memperlihatkan jaketnya yang sedang aku pakai, "ternyata ga ngaruh, malah bikin makin kangen". Suami bingung mau menanggapi apa, dia cuman jawab "sabar, ya".

Jika bisa dijabarkan, perasaan ini mirip seperti ingin makan sate, sudah pergi naik motor ternyata abangnya ga jualan. Mirip juga seperti sudah menabung untuk beli sepatu baru, tapi sepatunya discontinue. Atau sudah mengantri 30 menit untuk sebuah roti, ternyata sold out saat kita mau pesan.

Sejak saat itu, aku sadar ternyata kangen sama suami itu berbeda sekali. Entah kenapa ada rasa patah hati, karena sebagaimanapun aku kangen, aku benar-benar hanya bisa bersabar. Rasa kangen yang ga bisa diapa-apain, hanya tumbuh saja terus menerus sampai nanti berbunga pada waktunya. Insya Allah, secepatnya.

Wednesday, December 20

Memberi Kabar

Hai! Sudah lama tidak menulis di sini. Ingin memberi kabar saja, bahwa aku tetap menulis. Meski kini tulisanku berpindah ke deskripsi Instagram atau ke dalam buku jurnalku. Aku tetap senang menulis. Sesekali aku mengintip beberapa tulisan di blogku ini, membuatku merasa sedang memutar film yang menayangkan warna-warna perasaanku saat aku membuat tulisan-tulisan itu.

Saat sedang takjub pada warna-warna yang pernah aku torehkan di sekaca kehidupan, baru aku sadar bahwa di tahun 2023 ini tak ada satupun tulisan baru yang muncul dan ter-publikasikan. Rasanya tak bisa dibiarkan, aku tak mau blog ini benar-benar hilang. Maka aku buat tulisan yang sekedar memberi kabar ini.

Berhubung 2023 ini akan berakhir dalam belasan hari kedepan, aku akan mencoba merangkum bagaimana kehidupanku di tahun 2023:

  • Awal tahun, ada sebuah teguran yang Allah berikan kepadaku. Aku kena saraf kejepit. Bener-bener ga bisa bangun, ga bisa jalan bahkan cuman mau pindah posisi tidur aja ga bisa. Sakit banget! Akhirnya sadar betul harus bisa sehat!
  • Di tahun ini akhirnya aku ikut kajian Ngeslow! Setelah ketinggalan 1 tahun dan 1 tahun skip karena aku kira kelasnya 1 bulan sekali ada, taunya 1 tahun sekali. Kelas yang bikin pandangan aku berubah, meskipun merealisasikannya perlu usaha lebih. Ayo semangat!
  • Aku mulai belajar masak di tahun ini, aku udah bisa bikin pindang merah ala mamah. Yashhh!
  • Sesuatu yang bikin aku kaget tahun ini adalah, Yogi ke rumah dan izin ke orang tua aku untuk bisa tunangan sama aku. Dan bulan Maret, akhirnya aku tunangan sama Yogi! Kayanya perlu satu tulisan khusus untuk cerita yang satu ini.
  • Setelah tunangan, aku sama keluargaku silaturahmi ke keluarga Yogi di Majalengka. Pertama kalinya aku kesana, seru!!!
  • Dalam rencana untuk menikah setelah tunangan, si Jamilah ini memutuskan untuk resign! Wow keputusan yang luar biasa!
  • Bulan Juni, Yogi pergi ke Jepang. Sedih banget rasanya, tapi aku malah lebih sedih pas liat mamah Yogi ditinggalin anak sulungnya. Semoga Yogi bisa cepet ketemu keluarganya lagi.
  • Setelah resign bulan Mei, aku menjadi pengangguran paling bahagia. Karena semuanya terasa enteng, bisa jajan, bisa main, bisa apa aja hahaha apa ini perlu aku ceritakan khusus? hihihi
  • Yang cukup berkesan di bulan Desember (meskipun Desember belum berakhir), aku ikut acara sendirian. Pertama kalinya si introvert ini ikut acara buku, dapet tanda tangan ibu Leila S. Chudori plus nonton film Laut Bercerita. Serunya lagi, aku dapet temen baru disana! Kayanya aku ketagihan deh buat ikut acara-acara lainnya.

Ya, begitulah kehidupanku yang sederhana tapi membahagiakan ini. Ternyata ada beberapa yang sepertinya seru untuk aku jadikan tulisan. Lain kali, kalo ga males, aku coba tulis disini.

Saturday, December 10

Pengakuan si Pengecut

Bertahun-tahun berprinsip jangan sampai merasa menyesal, hindari segala hal yang membuka pintu-pintu penyesalan. Termasuk berharap, karena dia adalah kunci penyesalan terbesar.

Segala pintu harapan dan keyakinan aku tutup rapat. Aku simpan di tempat yang jauh. Aku anggap ini adalah pintu terakhir yang belum pasti aku masuki.

Awalnya terasa membahagiakan, karena segala kebaikan menjadi sebuah kembang api yang megah dibalik segala perkiraan-perkiraan buruk. Pada setiap yang aku rasa akan gagal, akhir yang ternyata berhasil membuatku bahagia luar biasa.

Ini ternyata menjadi sebuah kebiasaan, memperkirakan hal yang paling buruk menjadi keahlian. Aku menjadi mahir.

Pada suatu hubungan; Aku sepertinya akan disakiti, waspada; Hubungan ini akan gagal, waspada.
Pada suatu pekerjaan; Sepertinya hasilnya akan jelek; Sepertinya aku kurang mahir.
Pada sebuah pertemanan; Sepertinya aku bikin mereka malu.

Pemikiran seperti ini muncul di segala aspek. Pemikiran yang sebenarnya belum tentu ada namun aku buat nyata di depan mata. Tumbuh dan membesar. Membuat aku ciut dan takut. Segala hal membuatku gemetar, kakiku lemah ketakutan, tanganku kaku membeku dan tentu jantung yang berdebar. (Ini betulan, banyak terjadi di meja kerja)

Aku baru sadar, ternyata aku ini pengecut. Takut pada penyesalan sampai membiarkan diri menjadi seseorang yang pesimis, membiarkannya tak percaya pada segala kebaikan, membuatnya merasa pantas direndahkan, diinjak dan perlakuan lain yang tak seorangpun pantas mendapatkannya.

Setelah banyak berprasangka buruk, segala kegagalan tidak menjadi kurang menyakiti. Kegagalan tetap menyakitkan, tetap perih, tetap menusuk. Lalu kenapa aku tetap memilih menjadi orang yang seperti ini?

Wednesday, December 7

6.45

Aku menangis sambil berkata "Aku ga mau nikah, Mah"

Jawaban Mamah buat aku berpikir tentang bagaimana sayangnya Ia padaku, dari gerak-geriknya, dari tutur bahasanya, pula dari jeda sebelum Ia menjawab pernyataan yang cukup tegas dariku tadi.

"Jangan gitu, nikah itu wajib. Sieun dosa", jawabnya pelan, lembut, tenang sambil tangannya mengusap tanganku yang sedang memeluknya.

Sungguh jawaban klise, kan? Tapi dari sana, ada sesuatu yang tersembunyi. Ada perasaanku yang Ia validasi, yang Ia mengerti, yang Ia hormati. Bahwa Ia mengerti bagaimana aku sakit, bagaimana ini menjadi luka untukku dan bagaimana aku begitu takut tentang pernikahan.

Karna jika bukan takut dosa, Ia pun akan mengizinkan, yang penting aku tenang.

Tuesday, November 23

Mamah dan ikhtiarnya


Mamah, dalam ikhtiarnya untuk sehat.

Setiap hari aku selalu menduga-duga, bertanya dengan penuh ketakutan, "apakah hari ini?".

Setiap hari pula aku penuh keyakinan bahwa sehabis ini hidup ku dan mamah akan berbahagia.

Mamah dalam ikhtiarnya, aku dalam kecemasan dan hampir menyerah.

Monday, September 27

Sehidup Semati?

Pasanganmu kini ada pada masa dimana ia sedang cantik-cantiknya, sedang tampan-tampannya. Rambutnya pangkasan mode teranyar, kadang referensinya artis-artis korea. Saat ini mereka wangi vanilla, kadang bubble gum, pokonya tercium manis dan segar. Pakaian mereka modis mengikuti zaman hasil checkout keranjang shopee.

Ada masanya, saat umur kalian dipanjangkan, diberi kesempatan untuk bersama jauh lebih lama, dia yang sempurna di mata kini berubah jauh lebih banyak. Rambutnya memutih, rontok di bantal dan baju yang ia kenakan. Dibiarkan memanjang dan terurai tak beraturan. Kulitnya kerut menurunkan sudut-sudut wajahnya. Giginya pun pensiun, copot satu-persatu sampai bicaranya tak lagi jelas.

Saat ia yang dikasihi sudah tak bisa mengurus dirinya sendiri, hanya bisa meminta pertolongan. Apakah kamu siap menjadi penolong pertamanya? Apakah kamu siap menuntunnya ke kamar mandi, menunggu mereka didalam sana membuang kotoran-kotoran dari perutnya? Apakah kamu siap setelah pulang bekerja harus mengurusnya, menyuapinya, menunggunya sampai ia terlelap dan tak ada lagi me time. Siap?

Sehidup semati, katanya.

Sunday, May 23

Sabar berarti banyak

Aku sudah paham, juga sudah membuktikannya sendiri, bahwa apapun yang aku inginkan pasti Allah kasih. Baik itu sesuai dengan yang aku mau ataupun dengan yang jauh lebih baik.

Kalo gitu, tugasku sekarang adalah meminta, sambil berikhtiar.

Aku yakin, apa yang aku mau tidak lebih berat dari sebuah debu bagi Allah. Bukankah jika memang baik untuk ku, dunia yang besar ini juga akan Allah berikan. Maka atas setiap ketidak mampuanku, Allah menahan segala hal yang sebenarnya akan membuatku berat.

Artinya, sekarang ini sesungguhnya adalah kondisi yang paling mudah untukku. Hanya saja aku sering lupa, bahwa aku ini kuat. Sehingga, hal yang sebenarnya mudah, enteng, kecil malah jadi hal yang terasa berat juga memberatkan. Dan artinya, sesungguhnya setelah ini akan Allah segera tunjukkan bagaimana rencana yang baik untuk ku.

Disinilah sabar berarti banyak. Sabar berarti yakin, sabar berarti kuat, sabar berarti paham dan sabar berarti kemenangan.

Jadi, bersabar, ya!

Sunday, May 16

Perempuan Nyemplung ke Proyek

"Hari kamis ini kita ke lapangan ya, Jam. Kita bakal ke 4 lokasi  buat ngukur, sekalian cek kos Bogor", atasan ku berkata sebelum jam pulang.

Senang, karena setelah sejak Desember design-nya selesai, akhirnya bisa liat langsung proyek ku yang sebelumnya belum aku kunjungi akibat deadline yang terus-terusan.

Eh tunggu, 4 lokasi? Artinya ke lokasi lain yang juga dalam pembangunan tambah juga harus ngukur. Tiba-tiba kepikiran, "Aku kan sekarang pakai rok, merepotkan ga ya? Harus ngukur dan cek proyek lagi".

Kamis pun tiba, aku ga punya pilihan selain memaksakan dan percaya Allah pasti memudahkan aku dan orang disekelilingku. Karena ketakutanku adalah jika rok ku menghambat pekerjaan dan orang lain direpotkan karenanya.

Ini pekerjaan lapangan; ukur, tarik benang, cocokan dengan gambar. Stigmanya tentu ini pekerjaan laki-laki. Perempuan pakai rok? Repot.

Ternyata, 5 lokasi yang terkunjungi, semuanya berjalan biasa saja. Hanya tukang-tukang yang melihatku kebingungan mungkin ditambah rasa aneh.

Cek proyek; lancar. Ngukur; lancar, mudah dan tepat. Alhamdulillah, biasa saja. Hanya rok ku kotor terkena debu proyek, tapi saat ku liat teman kerja laki-lakiku, celananya pun kotor. Maka artinya, sama saja.

Baru aku sadar, ternyata aku hanya termakan stigma orang.



Saturday, May 15

Umur 25 Berharap Tabungan 100 Juta

Idealnya, usia 25 tahun sudah punya tabungan 100 juta.

Kalo kamu cuman bengong, mari kita bahas.

Beberapa orang dari kita, si golongan 25 keatas, akan bengong ketika tahu ternyata hidup ideal di usia 25 tahun adalah mengantongi uang 100 juta ditabungan. Nyatanya? Boro-boro. Padahal, kerja sudah banting tulang, sakit punggung sudah langganan, life style seadanya tapi 100 juta masih terasa jauh diujung sana.

Rasa tertinggal muncul kembali; Mungkin kerjanya kurang keras? Mungkin harus cari tambahan? Eh, ginjal masih dua, nih?

Ternyata, syukur kita yang kurang. Pandangan kita yang terlalu tinggi melihat ke atas. Visi kita yang belum kita genggam. Sedangkan orang-orang yang sudah sampai pada titik ideal itu mungkin sudah punya visi sejak awal. Sehingga, mereka menggenjot sejak awal pula dan menjadikan mereka layak mendapatkannya.

Maka visiku berbeda. Bagiku, hidup ideal adalah tentang ketenangan. Banyak orang yang mengantongi lebih dari 100 juta namun hidupnya tak tenang, ada juga yang umurnya tak sampai untuk menggunakan uang ratusan jutanya. Untukku, hidup tenang adalah idaman.

Ketenangan tak selamanya muncul dari digit tabungan. Justru muncul saat yakin atas rezeki yang memang sudah dicukupkan, sehingga yakin apa yang aku butuhkan pasti Allah mudahkan dari rezeki-Nya. Ketenangan muncul saat yakin takdir yang aku jalani sekarang adalah takdir terbaik ku, sehingga aku tak perlu merasa kecewa.

Hidup ideal adalah saat orang-orang berlomba memakai handphone keluaran terbaru tapi aku tak mengikutinya karena merasa tak butuh. Hidup ideal adalah saat aku bisa meninggalkan helm ku dimotor tanpa harus menentengnya kemana-mana dengan alasan takut diambil orang. Hidup ideal adalah merasa aman setiap bulan tanpa terpikirkan hutang-piutang. Hidup ideal adalah mampu membagi mana hak ku sendiri dan hak orang lain tanpa merasa takut kekurangan. Hidup ideal adalah hidup tenang atas rasa cukup.

Aku yakin beberapa dari kalian pasti insecure. Wajar, gapapa,  memang manusia seperti itu. Tapi coba resapi lagi dan lagi. Mereka yang sudah di titik ideal itu mungkin harus berdarah-darah untuk mencapai titik idealnya. Sedangkan kita sudah diberi rasa cukup, maka itulah nikmat yang Allah berikan. Allah tidak mencondongkan hati kita pada dunia, justru Allah mencurahkan rasa cukup, sehingga kita selalu bersyukur atas apa yang kita dapat.

Jadi, selow aja. Yakini kita sudah ada di track yang benar. Benahi visi agar tak lagi merasa insecure atas pencapaian orang lain. Dan mari sama-sama berdoa, semoga Allah menambah tabungan kita 100 juta lebih tanpa kita harus berdarah-darah. Bersyukur harus, bermimpi juga harus pun doanya juga harus.

Pesanku, untuk diriku sendiri.

Saturday, April 10

Sejak 2013, baru terjawab

Ternyata, Allah sedang mengabulkan mimpiku pada hari ini.

Dari hanya 2 jam perjalanan pulang-pergiku mencari buku, aku mengingat-ingat kapan terakhir aku bersengaja mencari buku untuk dibaca, seperti hari ini. Bahkan sampai saat ini pun, aku masih tak ingat kapan tepatnya. Kesibukan ku sebagai mahasiswa Arsitektur memberi jarak antara hari ini dan hari terakhir aku excited pada bau tumpukan buku.

Sejak tahun 2014 hingga awal 2019, jangankan membaca dan menulis, bahkan tidur pun menjadi sesuatu yang sangat sulit. Aku sempat ingin menyerah karena merasa diri telah diremas waktu senggangnya, kebahagiannya pula rasa tenangnya. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk tetap lanjut dan menyelesaikan pendidikan atas dasar 'ingin segera selesai'.

Lulus kuliah, aku sempat linglung mau bekerja dimana atau usaha apa? Sempat juga bingung sebenarnya apa yang aku mau dari bekerja, selain penghasilan. Aku baru paham setelah banyak benturan, bahwa ternyata aku ingin belajar, bukan hanya dalam kubus Arsitektur namun juga kubus kehidupan. Dan maha baik Allah, keinginanku Allah kabulkan. Kini aku bekerja pada lingkup yang memberiku banyak pembelajaran dan membuatku bertumbuh.

Tahan, bukan mimpi ini yang membuat ku terkejut hari ini.

Sebelum memutuskan untuk masuk ke jurusan Arsitektur, aku sempat berada dipersimpangan jalan. Arsitektur atau Sastra. Jelas, aku sangat suka menulis juga membaca, aku begitu jatuh cinta pada aksara, kata, kalimat serta titik dan koma diantaranya. Namun, aku diusia 17 memiliki pemikiran yang luar biasa aneh. Katanya, "Aku mau keluar dari garis nyaman, aku mau jadi Arsitek yang juga menulis".

Ya, dia benar-benar keluar teramat jauh dari garis nyaman-nya.

Kini, setelah beberapa tahun terjeda untuk kembali membaca dan menulis, ada antrean buku yang sedang menunggu. Dan saat beberapa buku sedang mengantre untuk dibaca serta beberapa tulisan yang masih terlabel "draft", ada pula beberapa hasil kerja Ngarsitek-ku yang sedang dalam proses pembangunan. Dan itu, baru aku sadari saat 2 jam perjalan pulang-pergi.

Ternyata benar, takdir yang dijalani sekarang ini adalah takdir terbaik kita.

Sunday, February 28

Legowo

Bagaimana sih menjadi dewasa itu? Mengetahui yang benar dan bukan? Memilih yang baik atau tidak? Menjadi kuat? Menjadi bijak? Mampu berdiri di kaki sendiri?

Ternyata, menjadi dewasa berarti menerima.

Memilih adalah proses yang hasil dari pilihan itu, mau ternyata benar atau tidak, baik atau tidak, kita harus menerima. Karena, hidup tidak akan selalu benar, baik, kuat dan bijak. Justru yang selalu ada adalah sedih, kecewa, bingung, tergesa-gesa, takut, menyesal dan rasa sendiri. Maka, legowo.

Kedepannya, akan sedikit sedih, sedikit sulit, maka terima.

Sunday, February 14

Terjebak

Dari cukup banyaknya ini itu yang aku alami, aku percaya bahwa ternyata tak ada manusia yang jahat. Mereka sepenuhnya berhati baik, mereka sepenuhnya lembut juga rapuh. Sejatinya, tak ada orang yang berniat ingin menjadi orang yang jahat dan berbahagia atas itu.

Aku yakin, mereka hanya terjebak. Terjebak dalam ketidak mampuan, terjebak atas kerapuhannya sendiri.

Aku yakin, setiap dari kita yang pernah bertemu dengan manusia terjahat, tak sedikit yang terjahat itu menjadi manusia terbaik untuk orang lain. Atau, bisa jadi kita pernah menjadi penyeselan terbesar untuk orang lain namun kini menjadi orang yang paling banyak orang syukuri kehadirannya.

Orang yang ku kira jahat, mungkin hanya terjebak di pertemuan antara aku dan dirinya. Aku pun yakin, aku menjadi orang yang jahat untuknya pada pertemuan ini. Tidak salah, justru aku menjadi paham bahwa pertemuan ini hanya sebuah persimpangan, bukan ujung.

Dia tak jahat, aku pun tak jahat. Kami hanya bukan diperuntukan untuk masing-masing. Kami hanya perlu keluar, hanya perlu lepas agar berhenti terjebak.

Entah siapa yang duluan.

Friday, December 18

Tumpah

Aku terbentuk menjadi manusia yang selalu menghindar untuk bercerita pada siapapun. Aku sempat memiliki trust issue karena cerita yang hanya aku ceritakan pada 1 orang tersebar ke banyak teman lain dan sekaligus menjadi olokan. Sejak itu, aku menutup cerita.

Sedari 2014, banyak benturan dikehidupan ku. Membuatku memar, kadang luka, kadang berdarah, kadang patah tapi selalu tak bisa berteriak. Aku selalu ingin tumpah, ingin meluap, tapi ternyata aku tetap menutup cerita.

Aku selalu mencari kesibukan, terpenting harus pergi pagi dan pulang malam. Beraktifitas ketika banyak orang tertidur dan tidur ketika banyak orang terbangun. Menghindar untuk bertemu sesama, memutuskan untuk bersendiri dan menjadikannya cara untuk tetap merasa hidup. 

Kebersamaan dengan manusia lain menjadi tekanan untukku, membuat ku merasa sempit, pengap bahkan terkadang merasa tertindih. 1 manusia mampu membuatku berekspektasi berjuta-juta kali dan itu yang membuatku pengap, aku tak pernah sanggup. Sering menghindari pertemuan, sekaligus bercemburu karena tak bisa ikut bertemu dengan yang lain. Arogan? Setuju.

Sejak benturan pertama muncul, tulis-menulisku berhenti. Blog seakan mati tak lagi mengalirkan kata-kata dari segala perasaan. Namun, bersendiri masih terus kujalani, kini bersendiri menjadi candu.

Maka pada keramaian jalanan, aku mencoba tumpah tanpa harus membuat orang lain basah. Pada bersendiri diatas roda dua, aku meluap baik cerita maupun air mata. Bersendiri tapi dibersamai dengan banyak suara mesin, kadang dibarengi dengan deras hujan. 3 tahun berkelanjutan, tiap malam hari menuju pulang, Cipaganti masuk ke list tempat bersendiri favoritku.

Kini 6 tahun berlalu, benturan itu masih selalu ada, hanya saja kini aku belajar untuk bisa tumpah ditempat yang tepat. Salah satunya; menulis.

Tuesday, December 15

Kembali

Aku akan membawa diri pada 8 tahun yang lalu, menulis, menulis, menulis dan menulis lagi. Tidak perlu mencari pembaca, justru menyelam di kedalaman, tenggelam, tak terlihat.

8 tahun ditambah beberapa tahun lainnya diblog yang lain, ternyata aku sudah cukup lama di dunia menulis ini. 5 tahun kebelakang, waktu ku habis dengan berkuliah. Pagi ke pagi ku habiskan dengan menggambar garis dan garis pada tumpukan kertas. Menulis sempat hilang dari waktu ku, yang biasanya selalu menulis dengan hanya melihat orang berbincang, tetiba berhenti.

Aku sekarang menjadi manusia yang membosankan, pergi pagi untuk bekerja tepat pukul 8 pagi dan pulang dengan manusia membosankan lainnya pada jam 5 sore. Ditambah, hasil sering menulis dalam bersendiri, aku menjadi manusia introvert yang mampu berbahagia hanya dengan berdiam sendiri di kamar. Makin membosankan, menurut teman-temanku.

Banyak sekali hal-hal tak terduga yang muncul pada dunia ku, keluarga, dunia kampus, teman, bahkan dunia kerja. Aneh, sungguh aneh. Tiba-tiba saja cerita hidupku beraduk-aduk, menghasilkan warna lain serta bersautan tak berhenti seperti gema.

Salah satunya, dalam 3 tahun aku selalu menangis bersama Papi, motorku. Meski tak ada tanggapan, tapi banyak cerita yang tertampung oleh Papi. Jika tak percaya, boleh tanyakan pada Jalan Cipaganti.

Akan aku ceritakan, kalo aku lagi mau.

Sunday, November 29

Sebelum ini, baik itu luas

Tak pernah dalam waktuku kemarin, aku membayangkan pilihan ini akan aku ambil secepat ini. Aku kira jalanku masih jauh untuk mencapai ini. Tapi ternyata, aku adalah insan yang tak tahu apa-apa.

Kemarin, dihari yang tidak aku ingat, tiba-tiba pilihan ini aku ambil. Aku terus-menerus memandang diri didepan cermin, sekali-kali bertanya "apakah aku pantas?", tapi dengan yakin aku putuskan mengambil erat pilihan ini.

Tak ada yang lebih mengkhawatirkan ku selain; "apakah aku bisa menjadi lebih baik dengan ini?"

Aku berproses, mencoba mempelajari banyak hal sampai sering terkagum-kagum sendiri atas apa yang baru aku ketahui. Akupun berusaha menerapkannya di setiap nafas dan kedipku. Tapi, berproses tidak mudah.

Berproses tidak hanya sekedar merubah yang buruk menjadi baik. Berproses pun terkadang membuat kita harus melepas apa-apa yang menurut kita baik. Sulit, berat dan terkadang menyakitkan.

Termasuk, kini dititik proses ini, baik menjadi menyempit. Berbagi tak lagi mudah, mengingatkan tak lagi bentuk sayang dan ikhlas pun dipertanyakan.

Kini, tak ada kata 'tak apa' dalam setiap kekhilafan. Kini aku dipaksa menjadi seorang malaikat yang harus dapat selalu taat, meskipun akupun menginginkannya. Tapi aku ini insan, aku lupa, aku egois, aku gampang menyerah. Kesalahan akan selalu ada dalam genggaman.

Aku sedang berusaha, mengikhlaskan sesuatu yang aku anggap baik, merubah hal yang sudah menjadi kebiasaan, membangun habit yang baru, beristiqomah, terus dan terus. Maka biarkan aku tetap pada prosesku ini, jangan jatuhkan aku hingga aku harus berbelok kembali.

Memanjangkan kerudung tak membuatku menjadi baik sempurna, aku tetap banyak khilaf dan lupa. Aku ini sedang berproses, sedang terkikis, terengah-engah, berdebar dan kadang ingin menyerah. Maka doakan aku dan mohon maaf jika prosesku membuatmu risih.

Tuesday, November 17

Dunia

 Aku takut pada dunia

Mengikat ku pada sesuatu yang selalu sementara

Membuatku lupa pada yang selamanya

Dunia selalu mengantarkan ku pada kekecewaan atas kehilangan

Membujuk ku mengharapkan segala yang mudah luntur

Menekanku jauh tenggelam hingga menyentuh dasar

Tertindih, pengap, tak enak

Tuesday, September 22

Jadikan Ia Telaga

 Ya Allah

Jika aku menjadi penghalang bagi kebahagiannya. 

Jika aku menjadi penyulit jalannya.

Jika aku menjadi sumber bagi segala kesulitannya.

Maka atas kepergianku, mudahkan.

Berikan padanya bahagia yang mengalir.

Jadikan dia telaga yang mengalir padanya segala kebaikan.


Dan biarkan aku berproses,

sampai menjadi sumber kebahagiaan orang lain.

Saturday, August 22

Berdagang

Perkenalkan, ini adalah My.Poraroido, anak kami (aku dan seorang teman), yang sedang kami urus agar bisa membuahkan produk. Saat ini, produk utama My.Poraroido adalah lembaran-lembaran foto. Aku sendiri memang senang dengan lembaran foto, meskipun hanya disimpan dan tidak dipajang. Aku senang bisa melihat foto-foto tersebut secara tiba-tiba dan tertarik pada atmosfer yang terkunci di dalamnya. Banyak atmosfer yang hadir, harum, dengung hingga sampai pada titik rasa rindu. Dari senangnya koleksi foto-foto pribadi dicampur dengan keresahan tak ada kerjaan, timbul rasa ingin menawarkan sebuah jasa print foto. Tapi ternyata, jalannya tidak sesingkat itu.

My.Poraroido bukanlah hal yang berdiri dengan terencana, awalnya dia hanya niat yang didukung oleh seorang teman dengan visi yang sama. Kami mulai berdiskusi soal jumlah foto, ukuran foto, nama foto hingga pada harga yang akan kami tawarkan. Banyak perdebatan, banyak keluhan tapi semangat kami tinggi padahal kami sendiri tidak tahu apakah semua ini bisa berjalan.

Namun, niat itu mulai tertindih, tertumpuk hingga lupa terakhir disimpan dimana. Sampai pada suatu hari, seorang teman lain melirik dan tertarik begitu saja. My.Poraroido mendapat pembeli pertama disaat nama My.Poraroido sendiri sama sekali belum terbentuk.

Aku dan temanku begitu senang karena perdebatan kami akhirnya bisa membuahkan hasil; Pembeli.

Pada saat itu, karena tidak terencana, kami bingung bagaimana cara packing, dengan apa kami harus membungkus pesanan orang. Dan akhirnya kami hanya menggunakan bahan yang kami punya, selembar kertas dan seutas tali rami yang ternyata masih layak untuk dijadikan sebagai packaging.

First thing first : Be Creative! But, dont push your self too much.

Dari sebuah postingan pembeli pertama kami, muncul lah pembeli lainnya. Pada saat itu, semangat kami semakin dibakar hingga niat yang sempat terlupakan disimpan dimana akhirnya muncul kembali. Melakukan Photo Product, Editing, Meeting yang adalah main serta Planning kami lakukan kembali dengan dasar "seru-seruan". Dan terbentuklah My.Poraroido yang resmi muncul ke permukaan pada tanggal 21 Agustus, setahun yang lalu.

Setahun lalu, tak pernah terbayangkan atas segala hal yang muncul dari berdagang. Semuanya muncul secara tiba-tiba dari seru-seruan ini. Bagiku, berdagang adalah sabar yang seakan digodok, dibakar, dibumbui dan dibakar kembali. Tak pernah berhenti sampai pada akhirnya hanya syukur yang aku rasakan. Dibalik lelahnya berdagang atau kesalnya berbincang dengan yang pura-pura ingin membeli ternyata banyak nikmat, banyak pembelajaran yang sepertinya tak bisa aku ambil jika My.Poraroido tak berjalan.

Aku sangat tidak suka jika harus bertemu orang, rasanya resah, takut ditanya banyak hal yang aku tak ingin. Tapi semenjak berdagang yang memaksaku bertemu dengan orang baru ataupun teman lama, ternyata bertemu orang itu seru. Terkadang saat mereka bertanya, aku malah menjawab dengan hal yang tidak nyambung. Malu sih, tapi saat di jalan pulang aku jadi nyengir-nyengir sendiri.

Juga, ternyata pada berdagang bukanlah keuntungan yang memberikan banyak rasa senang pada kami. Tapi ternyata apresiasi, dukungan, serta kepercayaan para pembeli kepada kami yang menjadi kaki My.Poraroido. Dari banyak dukungan, setiap lelah mengedit, membungkus dan COD menjadi nikmat yang selalu kami syukuri. Maka, terimakasih ya!

Dari apresiasi, dukungan dan semangat pembeli dan teman dekat, My.Poraroido juga bisa membuat produk original. Hanya sebuah sticker, sih. Tapi, bagi kami hal kecil itu adalah sebuah milestone yang membuktikan bahwa kami ini ternyata mampu. Berdagang ternyata seru dan bikin nagih.

Doakan kami, ya! Semoga My.Poraroido bisa terus berjalan tanpa ada batasan waktu. Dan doakan agar My.Poraroido selalu menjadi wadah bagi kami sang pendiri untuk bisa lebih berkreatifitas, untuk bisa banyak belajar, untuk bisa menggali diri serta untuk bisa memberikan yang terbaik. Sungguh amat tidak sabar mengeluarkan produk baru, tunggu ya!

My.Poraroido memang kecil, tapi hal yang tersimpan didalamnya begitu besar! Masya Allah, Alhamdulillah ðŸŒ»✨