My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Saturday, July 2

Rumah untuk Pulang

Ada yang sedang berjalan pulang
Kakinya setapak demi setapak memotong jarak
Menginjak kembali jejak saat hilang
Sepotong maaf dibawanya ringan berarak

Ada rumah yang lama ditinggalkan
Hingga pintunya lupa untuk terbuka
Ruang didalamnya meringkuk kedinginan
Membuat kaca jendelanya beruap duka

Ada yang sedang pulang ke rumah
Memilah kunci yang Ia lupa wujudnya
Ada rumah untuk pulang
Meski pintunya terkunci dari dalam

Tuesday, June 14

Duka Satu Hawa

Aku adalah seorang Hawa yang sangat amat sulit untuk percaya dan jatuh cinta dengan seorang Adam. Perlu setumpuk waktu bagiku untuk membuka gerbang hati yang entah bagaimana mampu terkunci begitu saja. Namun, ketika aku mulai jatuh cinta bahkan ketika jatuh ku sudah teramat dalam, Tuhan tiba-tiba menunjukan dasar cintanya yang ternyata terasa dangkal bagiku. Aku selalu jatuh pada cinta yang salah.

Kini, aku harus merangkak keluar sambil sesekali memungut potongan-potongan hati dan kepercayaan ku yang ternyata tak dihargai.

Tuhan tak pernah salah, suatu pertemuan bukanlah sebuah kebetulan. Maka jika pertemuan ku dengan satu Adam itu berakhir pilu, Tuhan telah menitipkan satu pembelajaran didalamnya.

Friday, March 25

Metamorfosis

met·a·mor·pho·sis 
(mĕt′ə-môr′fə-sĭs)
n. pl. met·a·mor·pho·ses (-sēz′)
1. A transformation, as by magic or sorcery.
2. A marked change in appearance, character, condition, or function.


Dalam Biologi dijelaskan bahwa kupu-kupu, katak dan belalang mampu bermetamorfosis. Aku kira hanya mereka yang mampu melakukan perubahan-perubahan seperti itu, tapi ternyata kamu juga memiliki kemampuan yang sama. Bukan metamorfosis yang memberimu sayap atau kaki super yang membuat mu mampu meloncat seperti katak, bukan pula metamorfosis yang memberimu sebuah kekuatan dan menjadi superhero

Hentikan imajinasi-imajinasi bodoh mu, aku sedang dalam area serius saat ini.

Metamorfosis mu lebih mengarah pada sifat, sikap dan kebiasaan mu terhadap ku. Tentang bagaimana kamu menyapaku, tentang bagaimana kamu menungguku, tentang bagaimana kamu menjagaku, tentang bagaimana kamu mengalah dan tentang bagaimana kamu memenuhi chat room-ku. Aku sudah hatam dengan kebiasaanmu dan tentunya aku sudah terlanjur nyaman di lingkaran itu.

Iya, bodoh ! Ada sebungkus perasaan disini !

Jika harus aku jabarkan, perasaan ini terbungkus dengan rapat tanpa ada satu orang pun yang dapat melihatnya, menciumnya, merabanya bahkan oleh kamu sendiri dimana perasaan ini seharusnya tertuju. Jika memang hanya aku yang memiliki bungkusan perasaan ini, tak masalah, aku sama sekali tak mengharapkan apa-apa darimu. Lagipula perasaan ini hanyalah perasaan yang tak mau jika dilupakan, yang hanya ingin dijaga bukan perasaan yang ingin dimiliki dan memiliki. 

Namun, dasar Bodoh, metamorfosis sikapmu membuat bungkusan perasaan ini terkoyak seperti gempa yang menumpahkan air dilautan. Metamorfosis mu membuatku bertanya "Mengapa ?"  beribu-ribu kali karena tidak mungkin tidak ada apa-apa saat kamu tiba-tiba berubah seperti ini. Apakah aku yang melakukan kesalahan hingga kebiasaan mu tertawa dengan ku hilang ?

Metamorfosismu membuatku merasa kehilangan seseorang yang membuatku nyaman tanpa harus berada dipelukannya. Jika boleh jujur, aku merindukanmu. Iya, tertawalah. Aku tahu kamu pasti merasa bahwa semua ini untukmu, jadi tertawalah sampai puas. Sebenarnya tidak masalah kamu mau bermetamorfosis seperti apa, masalahnya adalah aku harus membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaanmu yang baru dan terkadang itu membuatku sedikit kecewa.

Ya bagaimana tidak kecewa, coba kamu sadari bahwa sekarang-sekarang ini kamu melewatkan kebiasaanmu yang selalu menungguku, yang selalu menjagaku atau yang selalu tertawa denganku. Jadi sudahlah, tidak usah ikut-ikutan si kupu-kupu dan teman-temannya itu, mereka ini hanya objek pengetahuan dalam ilmu Biologi.

Sayang, dalam Biologi tidak dijelaskan bagaimana perasaan daun yang tak lagi digemari ulat karena kini kupu-kupu hanya tertarik pada bunga.

Sunday, November 22

Intuisi

Ada empat wanita yang duduk disatu meja yang sama.Tiga wanita sedang tertawa sementara satu wanita lainnya hanya tersenyum sendu. Tiga wanita itu memberi simpati.

“Kenapa ?”

“Pasti Gama, ya ?”

Wanita yang mendapat pertanyaan itu menunjukan ponselnya dan berkata, “Sudah 4 jam dan pesanku belum dia balas”. Tiga wanita itu kembali memberi simpati.

“Mungkin dia tidur”

“Atau ponselnya mati”

“Dia sibuk mungkin”

Lalu pintu restoran terbuka, sepasang kekasih datang sambil bergandengan tangan.

Seketika terdengar wanita tadi berkata dengan penuh kekecewaan, “Sekarang aku mengerti mengapa Gama belum membalas pesanku”.