My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Sunday, May 6

BULLET JOURNAL #2 (How to start)

Pada postingan sebelumnya, aku sudah menjelaskan apa itu Bullet Journal. Kalo kalian belum baca boleh di cek di postingan sebelumnya, ya! Click Here

Setelah memahami apa itu Bullet Journal, sebenarnya apa sih yang kita butuhkan untuk menggunakan sistem Bullet Journal ? Seperti yang Ryder perlihatkan pada videonya, kita hanya membutuhkan sebuah buku dan pena. Agar sistem ini berjalan dengan baik, maka kita juga membutuhkan niat yang kuat. Simple, kan ? Bullet Journal ini memang dibuat untuk dapat mempermudah dan membantu kita, bukan mempersulit.


Satu hal lain yang perlu kalian ketahui, Bullet Journal ini adalah suatu hal yang harus dilakukan secara rutin. Tapi sebenarnya setelah kita merasakan kemudahan dalam menggunakan Bullet Journal, kita akan rutin menggunakan Bullet Journal ini dengan sendirinya. Aku sendiri minimal 1x membuka buku Bullet Journal dalam sehari. Dan itu secara tidak sadar loh alias refleks....

Jadi, bagaimana sih cara menggunakan sistem Bullet Journal ini?



Pertama-tama buatlah sebuah "Legenda", atau para bullet journalist lebih sering menyebutnya dengan  sebutan "Key". Key ini terdiri dari beberapa simbol yang akan kita gunakan nantinya. Ryder, penemu Bullet Journal, mengenalkan 4 unsur utama yang akan kita lambangkan dengan simbol. 4 unsur tersebut adalah:

  1. Task. Task atau tugas merupakan unsur pekerjaan yang harus kita kerjakan. Ryder menyimbolkan unsur Task ini dengan dot “.”. Karena unsur task adalah sebuah pekerjaan, maka ketika pekerjaan ini telah dikerjakan kita akan menggantinya dengan simbol “x”. Contoh : “kerjakan tugas Etika Profesi”
  2. Event. Event adalah acara/jadwal yang sudah memiliki tanggal yang pasti. Ryder menyimbolkan unsur Event ini dengan “o”. Contoh : “ulang tahun Rian”
  3. Notes. Notes berisi tentang hal-hal yang kamu ingin ingat atau beberapa pemikiran yang ingin kamu ingat. Contoh : “ulangan dari bab 2”
  4. Signifiers. Signifiers merupakan simbol tambahan yang akan lebih memudahkan kita. Kita juga dapat menambahkan simbol lain sesuai dengan kebutuhan kita. Contoh : pemakaian simbol “*” sebagai hal yang sangat penting.


(ini adalah "key" standar yang diperkenalkan oleh Ryder)

(ini "key" yang aku buat sendiri)


Setelah hal-hal tersebut sudah kita pahami, maka selanjutnya kita akan memasuki komponen-komponen penting pada sebuah Bullet Journal. Komponen-komponen inilah yang akan membantu kita untuk dapat mengorganisir pekerjaan kita.

Index

Seperti Index pada umumnya, index ini digunakan untuk mengetahui isi pada buku dan pada halaman berapa isi tersebut berada. Jika kalian ingin memulai menggunakan sistem Bullet Journal ini, maka usahakan untuk mengosongkan 1 sampai 2 lembar dibagian depan buku untuk digunakan sebagai lembar Index.


Dengan adanya komponen index ini, maka alangkah lebih baiknya kita memberikan no halaman dan judul pada lembar kerja kita nantinya dan input ke lembar index ini.

Future Log

Future Log ini sebenarnya adalah kumpulan Monthly Log dimana kita dapat melihat tugas, event atau bahkan tanggal istimewa pada beberapa bulan. Future Log ini tidak harus berisi 12 bulan penuh, cukup dimulai dari bulan dimana kita memulai Bullet Journal.


Monthly Log

Monthly Log adalah pengembangan dari Future Log. Jika pada Future Log kita dapat melihat dan melakukan planning dalam beberapa bulan, Monthly Log hanya terdiri dari 1 bulan. Monthly Log ini selalu dibuat pada awal bulan agar kita dapat mengetahui tugas apa yang harus segera diselesaikan, acara apa yang harus didatangi dan tentu siapa saja yang berulang tahun pada bulan tersebut. Di dalam Monthly Log ini segala sesuatu akan lebih detail karena kita hanya akan berfokus pada 1 bulan saja.


Daily Log

Daily Log ini lah yang akan kita buka setiap harinya. Di dalam komponen inilah simbol-simbol yang sudah kita buat akan kita gunakan. Daily log ini berisi tentang tugas, acara, appoinment atau bahkan jurnal kalian di hari tersebut.



Begitulah bagaimana sistem Bullet Journal ini bekerja!
Selamat mencoba!

Sunday, April 1

BULLET JOURNAL #1

Sebagai mahasiswa arsitektur, aku punya banyak tugas yang harus diselesaikan dalam jangka waktu yang sangat singkat. Ketika aku bilang banyak, itu benar-benar banyak dan tugas yang aku punya itu bukan tugas yang bisa selesai dengan cepat hanya dengan mencari bahan di platform Google. Aku sempet kewalahan waktu itu sampai akhirnya aku menemukan video Bullet Journal di Youtube. Aku pelajarin baik-baik soal Bullet Journal sampe akhirnya penasaran buat coba. Belum setahun penuh memakai sistem Bullet Journal, aku yang sempet kewalahan mengatur waktu dan sempet kesel sama diri sendiri karena jadi orang yang super pelupa, akhirnya bisa jadi orang yang lebih baik.

Garis bawahi, ya. Bisa jadi orang yang lebih baik, bukan berubah jadi baik secara total. Masih berproses wkwk.

Bullet Journal sendiri adalah suatu sistem untuk membuat agenda atau perencanaan atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan planner. Aktifitas kita sehari-hari, bahkan kegiatan setahun penuh bisa kita rencanakan di dalam Bullet Journal ini. Bullet Journal bisa kita jadikan sebagai buku to-do-list, sketchbook, notebook, diary atau bahkan keempatnya. Bullet Journal ini sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita masing-masing.

Jika masih belum mengerti, coba dicek video tentang Bullet Journal ini langsung dari penemunya, Ryder. Check it ! (coba di click)

"Bullet Journal is a simple and flexible way to track the past, organized the present and plan for the future" - Ryder

Dan bener banget tuh kata si Ryder, aku jadi bisa tau apa yang udah aku lewatin, aku bisa dengan mudah ngerjain suatu hal sesuai prioritasnya dan aku jadi ga panik karna bingung harus ngerjain apa dulu. Kalian perlu tau juga kalo aku punya penyakit panikan banget, karna bener-bener takut tugas yang aku punya ga bisa aku selesain (saking banyaknya).

Banyak yang salah paham kalo Bullet Journal itu harus bagus, berwarna dan menarik. Ada juga yang berpikiran kalo Bullet Journal modalnya mahal karna bukunya harus bagus dan harus memakai brush pen yang mahal juga. Beberapa orang juga berpikiran bahwa mereka gak bisa pake sistem Bullet Journal karena mereka ga bisa gambar. Itu salah total! Bullet Journal ini mempermudah, loh! Bukan jadi mempersulit! Sesuai dengan video dari Ryder, Bullet Journal ini hanya membutuhkan sebuah buku dan sebuah pena atau alat tulis lainnya. Buku bagus, brush pen dan doodle adalah sebuah bonus yang menjadi kepuasan tersendiri bagi kami para Bullet Journalist.

Jika kalian ingin menggunakan sistem Bullet Journal ini kalian hanya membutuhkan keahlian untuk menulis dan tekad yang cukup kuat. Kalian perlu mengetahui kenapa kalian membutuhkan sistem ini, karena jika tidak, sistem ini tidak akan bisa berjalan dengan baik. Misalnya aku, aku memakai Bullet Journal ini karna aku orangnya super pelupa, ga bisa ngatur prioritas dan super pemalas. Bullet Journal bikin aku tau mana prioritas aku, aku juga jadi ingat apa yang harus aku ingat dan aku jadi termotivasi untuk melakukan suatu hal.

Karena sebagus apapun buku dan pena yang kamu pakai, Bullet Journal ini tidak akan berjalan kalo kamu tidak punya niat.

Untuk kali ini aku cuman mau bahas pengertian dari Bullet Journal terlebih dahulu, selanjutnya akan aku bahas mengenai apa saja yang dibutuhkan untuk memulai Bullet Journal dan juga sistem yang ada pada Bullet Journal :)

Saturday, September 2

Rama dan Shinta Milenium

Melihat seseorang pergi adalah hal yang mampu membuat kita jatuh ke dalam lubang kesedihan. Pergi berarti meninggalkan dan ditinggalkan. Pergi pula berarti berpisah. Maka ketika langkahnya semakin menjauh, semakin aku tenggelam di lubang kesedihan. Jika pergi dengan pamit akan sebegitu sedihnya, maka bagaimana jika kepergiaan itu terjadi karena terpaksa ? Bagaimana jika berpisah bukan karena keinginan kita ?

Sungguh malang Rama dan Shinta yang harus terpisah karena keegoisan orang lain. Bukan ingin Rama. Bukan pula ingin Shinta. Mereka hanya terpaksa berpisah, sama seperti aku dan kamu. Bukan inginku untuk melihat kamu menjauh dari sini, dan bisa kupastikan bahwa bukan inginmu untuk terus melangkah jauh.

Kita, Rama dan Shinta Milenium.

Aku sekarang mengerti bagaimana perasaan Shinta yang harus terpisah dari Rama. Bisa aku mengerti bagaimana kesedihan seorang Shinta yang seakan membanjiri dirinya. Perasaan-perasaan sedih itu kini juga membanjiri diriku, kian lama sedih itu menjadi bandang yang terus menyeretku.

Ingin aku berbincang dengan Shinta, menanyakan satu dan lain hal yang masih sampai saat ini tak memiliki jawaban. Bagaimana Shinta bisa dengan sabar menerima kesedihan itu ? Pun bagaimana dia bisa tegar terpisah dari yang ia yakini sebagai cintanya; Rama ? Atau, apakah Shinta tak pula memiliki jawaban itu ?

Shinta, memang sungguh jahat si Rahwana itu. Teramat tega dia sampai harus mengikat kita dengan tali keegoisannya. Teramat jahat dia, mengurung kita dalam kandang yang dia sebut cinta. Teramat licik dia, menarik genggaman erat tangan kita dari Sang Rama. Ramaku dan Ramamu.

Hey, Rahwana ! Keturunan mu kini datang di abad 21 ! Dia teramat mirip denganmu, tiada beda ! Cintanya tertukar dengan keegoisan. Cintanya tersesat dan tergantikan. Cintanya hilang tak berbayang.

Namun, Ramaku juga tak mau kalah dari Rama yang melegenda itu. Kamu, seperti halnya Rama milik Shinta, berusaha mati-matian agar bisa merebutku kembali. Mana rela jika seorang Rama harus kalah dari Rahwana. Mana rela jika harus terpisah karena tangan seorang Rahwana. Ramaku melepas tali yang mengikat, membebaskan aku dari kurungan keegoisan sang Rahwana.

Layaknya kisah Rama dan Shinta, kita kembali lagi bersama. Dan seperti rasa yang diceritakan Rama dan Shinta, ternyata kehilangan membuat kita tahu seberapa berharganya kamu untukku dan aku untukmu. Maka, berapa pintupun yang terbuka, jangan pernah sekali-kali kamu pergi, Ramaku!

Kepada Rahwana-Rahwana yang lainnya, berenanglah kepermukaan, karena kamu telah tenggelam begitu dalam di laut keegoisan.

Sunday, July 30

Untuk Rumah No. 31

Menonton televisi bersama setelah shalat isya sampai waktu tidur tiba menjadi hal yang paling aku rindukan saat ini. Menyaksikan acara yang membuat kami tertawa atau bahkan menangis menjadi hal yang ingin aku ulangi. Sehari saja, tidak apa-apa.

Minggu pagi, menyantap pisang goreng buatan bapak dan secangkir teh manis hangat menjadi hal yang sulit ditemukan sekarang. Buatan bapak selalu enak, pisang goreng itu tadi atau bahkan hanya sekedar tahu dan tempe goreng, rasanya enak! Bahkan mamah harus mengaku kalah kalo soal rasa pisang, tahu dan tempe goreng. Kalah telak.

Meskipun selalu kalah dan menangis, aku merindukan bagaimana jahilnya kakak-kakak ku. Bagaimana mereka begitu seenaknya dengan adik bungsunya ini, melempar bantal, mengunci ku di dapur, meledek ku, mengguyur ku dengan air dingin, mencubit ku dan hal lainnya yang sekarang malah ingin aku dapatkan lagi.

Sekarang, rumah ini tidak sehangat dulu. Kata mamah, kalo magrib rumah ini terasa sangat sepi. Makanya setiap mau magrib mamah suka whatsapp, sms atau telfon dan bertanya kapan pulang. Kasihan, mamah sekarang sering sendiri di rumah.

Ingin rasanya kembali melakukan banyak kenangan itu di rumah ini, tapi ternyata waktu memakan semua kenangan itu. Tidak ada menonton televisi bersama lagi setelah isya, kami tetap melakukan kegiatan masing-masing di kamar kami sendiri. Minggu pagi tidak ada pisang goreng dan teman-temannya, hanya ada teh yang dinikmati di kamar masing-masing.

Tidak kah kamu merasa kedinginan, wahai rumahku ?
Dari, yang 10 tahun sudah tidur di kamar bercat pink.