My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Saturday, March 28

Banyak Salah

Mungkin, kita harus meminta maaf kepada:
Tanah, yang selalu kita tutupi, dengan aspal, keramik bahkan sepatu.
Langit, karena sering kita tantang ketinggiannya.
Angin, atas sapaannya yang tak pernah kita syukuri.
Air, karena perjalanannya selalu kita hambat.
Juga pada Matahari, karena hangatnya selalu kita hindari.

Banyak salah, tapi kita ternyata masih diberi kesempatan. Semua hal yang tak bisa berbahasa manusia sedang memaksa kita agar mata kita bisa kembali melihat, telinga bisa kembali mendengar, hidung bisa kembali menghirup, tangan bisa lagi meraba dan mulut bisa lagi mencium.

Selamat beristirahat serta selamat banyak belajar. 

Thursday, March 26

Ruang

Aku kira, rasa ini adalah kekosongan yang ingin terisi oleh tawa.

Tapi ternyata, aku ingin kosong.

Aku ingin menumpahkan segala hal yang memenuhi, yang berdesakan dan terus menekan.

Aku ternyata ingin jatuh, ingin pecah, ingin terbelah.

Aku ingin tumpah, ingin luntur, ingin mencair.

Aku ternyata hanya mendung yang ingin hilang untuk hujan, ingin meriuh pada tanah.

Agar ringan dan kembali tegak. Agar yang tercecer bisa aku pilah. Agar yang rapuh dan retak bisa aku tambal. Agar yang tergores bisa kembali aku lukis. Dan agar apapun yang runtuh bisa aku bangun kembali.

Aku ingin ruang.

Sunday, November 17

Masalah Orang Dewasa

"Ko aku susah banget ya nyari kerja?", keluh ku waktu itu. "Susah? Jamilah bukan susah cari kerja, ada kerjaan tapi Jamilah kan harus nolak", jawab seorang teman, sambil senyum.

Sudah dewasa, masalah ku bukan lagi soal lelaki atau teman. Kini masalah ku ada di persoalan pekerjaan, persoalan yang sesungguhnya membosankan, tapi kini menjadi penting dan genting. Meskipun belum tau apa yang aku cari di lahan pekerjaan, tapi rasanya beli bakso cuankie pakai uang sendiri adalah suatu kebanggan.

Saat ini aku menjadi salah satu orang dewasa yang gundah karena mendapat pekerjaan diluar kota, eh ga dapet ijin. Dapat tawaran kerja di deket rumah, eh tiap hari cuman dikasih "tunggu, ya". Hal-hal seperti itu yang bikin aku ingin mengeluh. Rasanya ko susah banget, ya?

Jujur, sampai saat ini aku belum pernah sakit hati ditanya hal-hal basi seperti; "lulus kapan?", "kapan nikah?", atau bahkan "makin gendutan ya?". Semuanya bisa aku bodo-amatin dengan hanya menjawab pakai senyuman.

Tapi kemarin ada yang bertanya, "kerja dimana?", lalu ada sepersekian detik dimana tubuhku terasa panas, merinding dan rasanya bingung jawab apa. Lalu aku coba jawab dengan kenyataan, "aku belum kerja, doain yaaaa". Eh dia pergi dengan berkata "waduh".

Saat itu aku hanya senyum, dengan badan yang panas menahan emosi. Rasanya pengen nangis padahal cuman di-waduh-in. Aku tahan, karena dalam hati aku tau orang itu belum tau rasanya mencari kerja. Dan mungkin dia gak akan pernah tau prosesku.

Aku bekerja sana-sini, sekarang juga aku bekerja ngurusin kerjaan orang. Tanpa dibayar. Meskipun kesal, tapi aku ikhlas. Aku kerjakan baik-baik padahal harus kesana-kesini yang ongkosnya aku bayar sendiri. Dari mana? Entah, rezekiku selalu ada dikasih sama Yang Maha Kaya.

Tapi, memang dasar manusia, diri ini merasa kurang. Melihat orang lain yang sudah punya restoran sendiri, kerja dengan gaji yang besar dan teman-teman lain yang ku anggap sudah bahagia. Rasanya ingin protes, ko aku masih dititik ini sedangkan orang lain sudah pada titik yang lain.

Lalu seorang teman memberi tahu, "Syukuri hal yang kamu punya sekarang, karena entah dimana ada orang yang sedang menginginkan posisi kamu sampai berjuang dengan keras". Kata-kata itu bikin mengeluhku menciut. Jadi malu rasanya.

Teman-teman yang masih berjuang dengan skripsinya tentu sudah ingin segera berada di drama pekerjaan ini. Ataupun teman-teman yang sedang bekerja ingin bisa santai seperti ku.

Lalu tambah malu ketika sadar ko aku ingin jalanku lurus-lurus saja. Padahal, mereka-mereka disana punya perjuangannya sendiri. Perjuanganku harus kuat agar hasilku mantap. Ilmuku kurang, makanya Sang Maha Tahu mau aku mengerti banyak hal. Termasuk ilmu berusaha, ilmu ikhlas dan ilmu sabar.

Kemarin, lamaran ku diterima dan dibaca oleh arsitek ternama, email ku dibalas katanya cv dan portfolio ku menarik. Yu job seeker, nikmati aja! Hal membosankan ini terkadang seru!

Sunday, September 15

Hilang

Entah berapa kali dalam setahun, tapi akan ada satu hari dimana ingin ku rapihkan tempat tidur dan kamarku lalu aku kemas beberapa barang. Mungkin beberapa pakaian saja serta buku jurnal ku. Jika sudah, ingin aku meriset ulang handphone hingga tampilan dan isinya sama saat aku pertama memakainya. Tanpa membawa album foto dan juga tanpa menulis surat, aku ingin pergi dari rumah tanpa membawa satu kontakpun di handphone.

Aku ingin pergi jauh, bahkan rasanya tak masalah jika harus menyebrangi pulau. Ada perasaan tak ingin dijangkau. Rasanya, aku ingin berada di lingkungan yang asing lalu ku sapa dengan diri yang sudah tahu mana yang boleh dan mana yang tak boleh. Maka bernafaslah diri yang baru, yang seakan baru saja lahir tanpa memiliki masa lalu.

Jelas setelah itu, akan ada hari dimana aku menyesali kepergian ku, merindukan yang aku tinggalkan. Tapi ya sudah. Rasanya akan hilang saat yang baru lebih seru. 

Lalu diri saat ini tahu, bahwa andai saja semudah itu. Andai semua bisa sesuai dengan ingin ku. Andai benar perasaan ini hanyalah perasaan yang ingin tak terjangkau. Nyatanya, perasaan ini hanya ingin tahu apakah diri ini berharga jika sudah hilang.