My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Tuesday, December 15

Kembali

Aku akan membawa diri pada 8 tahun yang lalu, menulis, menulis, menulis dan menulis lagi. Tidak perlu mencari pembaca, justru menyelam di kedalaman, tenggelam, tak terlihat.

8 tahun ditambah beberapa tahun lainnya diblog yang lain, ternyata aku sudah cukup lama di dunia menulis ini. 5 tahun kebelakang, waktu ku habis dengan berkuliah. Pagi ke pagi ku habiskan dengan menggambar garis dan garis pada tumpukan kertas. Menulis sempat hilang dari waktu ku, yang biasanya selalu menulis dengan hanya melihat orang berbincang, tetiba berhenti.

Aku sekarang menjadi manusia yang membosankan, pergi pagi untuk bekerja tepat pukul 8 pagi dan pulang dengan manusia membosankan lainnya pada jam 5 sore. Ditambah, hasil sering menulis dalam bersendiri, aku menjadi manusia introvert yang mampu berbahagia hanya dengan berdiam sendiri di kamar. Makin membosankan, menurut teman-temanku.

Banyak sekali hal-hal tak terduga yang muncul pada dunia ku, keluarga, dunia kampus, teman, bahkan dunia kerja. Aneh, sungguh aneh. Tiba-tiba saja cerita hidupku beraduk-aduk, menghasilkan warna lain serta bersautan tak berhenti seperti gema.

Salah satunya, dalam 3 tahun aku selalu menangis bersama Papi, motorku. Meski tak ada tanggapan, tapi banyak cerita yang tertampung oleh Papi. Jika tak percaya, boleh tanyakan pada Jalan Cipaganti.

Akan aku ceritakan, kalo aku lagi mau.

Sunday, November 29

Sebelum ini, baik itu luas

Tak pernah dalam waktuku kemarin, aku membayangkan pilihan ini akan aku ambil secepat ini. Aku kira jalanku masih jauh untuk mencapai ini. Tapi ternyata, aku adalah insan yang tak tahu apa-apa.

Kemarin, dihari yang tidak aku ingat, tiba-tiba pilihan ini aku ambil. Aku terus-menerus memandang diri didepan cermin, sekali-kali bertanya "apakah aku pantas?", tapi dengan yakin aku putuskan mengambil erat pilihan ini.

Tak ada yang lebih mengkhawatirkan ku selain; "apakah aku bisa menjadi lebih baik dengan ini?"

Aku berproses, mencoba mempelajari banyak hal sampai sering terkagum-kagum sendiri atas apa yang baru aku ketahui. Akupun berusaha menerapkannya di setiap nafas dan kedipku. Tapi, berproses tidak mudah.

Berproses tidak hanya sekedar merubah yang buruk menjadi baik. Berproses pun terkadang membuat kita harus melepas apa-apa yang menurut kita baik. Sulit, berat dan terkadang menyakitkan.

Termasuk, kini dititik proses ini, baik menjadi menyempit. Berbagi tak lagi mudah, mengingatkan tak lagi bentuk sayang dan ikhlas pun dipertanyakan.

Kini, tak ada kata 'tak apa' dalam setiap kekhilafan. Kini aku dipaksa menjadi seorang malaikat yang harus dapat selalu taat, meskipun akupun menginginkannya. Tapi aku ini insan, aku lupa, aku egois, aku gampang menyerah. Kesalahan akan selalu ada dalam genggaman.

Aku sedang berusaha, mengikhlaskan sesuatu yang aku anggap baik, merubah hal yang sudah menjadi kebiasaan, membangun habit yang baru, beristiqomah, terus dan terus. Maka biarkan aku tetap pada prosesku ini, jangan jatuhkan aku hingga aku harus berbelok kembali.

Memanjangkan kerudung tak membuatku menjadi baik sempurna, aku tetap banyak khilaf dan lupa. Aku ini sedang berproses, sedang terkikis, terengah-engah, berdebar dan kadang ingin menyerah. Maka doakan aku dan mohon maaf jika prosesku membuatmu risih.

Tuesday, November 17

Dunia

 Aku takut pada dunia

Mengikat ku pada sesuatu yang selalu sementara

Membuatku lupa pada yang selamanya

Dunia selalu mengantarkan ku pada kekecewaan atas kehilangan

Membujuk ku mengharapkan segala yang mudah luntur

Menekanku jauh tenggelam hingga menyentuh dasar

Tertindih, pengap, tak enak

Tuesday, September 22

Jadikan Ia Telaga

 Ya Allah

Jika aku menjadi penghalang bagi kebahagiannya. 

Jika aku menjadi penyulit jalannya.

Jika aku menjadi sumber bagi segala kesulitannya.

Maka atas kepergianku, mudahkan.

Berikan padanya bahagia yang mengalir.

Jadikan dia telaga yang mengalir padanya segala kebaikan.


Dan biarkan aku berproses,

sampai menjadi sumber kebahagiaan orang lain.