My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Sunday, February 28

Legowo

Bagaimana sih menjadi dewasa itu? Mengetahui yang benar dan bukan? Memilih yang baik atau tidak? Menjadi kuat? Menjadi bijak? Mampu berdiri di kaki sendiri?

Ternyata, menjadi dewasa berarti menerima.

Memilih adalah proses yang hasil dari pilihan itu, mau ternyata benar atau tidak, baik atau tidak, kita harus menerima. Karena, hidup tidak akan selalu benar, baik, kuat dan bijak. Justru yang selalu ada adalah sedih, kecewa, bingung, tergesa-gesa, takut, menyesal dan rasa sendiri. Maka, legowo.

Kedepannya, akan sedikit sedih, sedikit sulit, maka terima.

Sunday, February 14

Terjebak

Dari cukup banyaknya ini itu yang aku alami, aku percaya bahwa ternyata tak ada manusia yang jahat. Mereka sepenuhnya berhati baik, mereka sepenuhnya lembut juga rapuh. Sejatinya, tak ada orang yang berniat ingin menjadi orang yang jahat dan berbahagia atas itu.

Aku yakin, mereka hanya terjebak. Terjebak dalam ketidak mampuan, terjebak atas kerapuhannya sendiri.

Aku yakin, setiap dari kita yang pernah bertemu dengan manusia terjahat, tak sedikit yang terjahat itu menjadi manusia terbaik untuk orang lain. Atau, bisa jadi kita pernah menjadi penyeselan terbesar untuk orang lain namun kini menjadi orang yang paling banyak orang syukuri kehadirannya.

Orang yang ku kira jahat, mungkin hanya terjebak di pertemuan antara aku dan dirinya. Aku pun yakin, aku menjadi orang yang jahat untuknya pada pertemuan ini. Tidak salah, justru aku menjadi paham bahwa pertemuan ini hanya sebuah persimpangan, bukan ujung.

Dia tak jahat, aku pun tak jahat. Kami hanya bukan diperuntukan untuk masing-masing. Kami hanya perlu keluar, hanya perlu lepas agar berhenti terjebak.

Entah siapa yang duluan.

Friday, December 18

Tumpah

Aku terbentuk menjadi manusia yang selalu menghindar untuk bercerita pada siapapun. Aku sempat memiliki trust issue karena cerita yang hanya aku ceritakan pada 1 orang tersebar ke banyak teman lain dan sekaligus menjadi olokan. Sejak itu, aku menutup cerita.

Sedari 2014, banyak benturan dikehidupan ku. Membuatku memar, kadang luka, kadang berdarah, kadang patah tapi selalu tak bisa berteriak. Aku selalu ingin tumpah, ingin meluap, tapi ternyata aku tetap menutup cerita.

Aku selalu mencari kesibukan, terpenting harus pergi pagi dan pulang malam. Beraktifitas ketika banyak orang tertidur dan tidur ketika banyak orang terbangun. Menghindar untuk bertemu sesama, memutuskan untuk bersendiri dan menjadikannya cara untuk tetap merasa hidup. 

Kebersamaan dengan manusia lain menjadi tekanan untukku, membuat ku merasa sempit, pengap bahkan terkadang merasa tertindih. 1 manusia mampu membuatku berekspektasi berjuta-juta kali dan itu yang membuatku pengap, aku tak pernah sanggup. Sering menghindari pertemuan, sekaligus bercemburu karena tak bisa ikut bertemu dengan yang lain. Arogan? Setuju.

Sejak benturan pertama muncul, tulis-menulisku berhenti. Blog seakan mati tak lagi mengalirkan kata-kata dari segala perasaan. Namun, bersendiri masih terus kujalani, kini bersendiri menjadi candu.

Maka pada keramaian jalanan, aku mencoba tumpah tanpa harus membuat orang lain basah. Pada bersendiri diatas roda dua, aku meluap baik cerita maupun air mata. Bersendiri tapi dibersamai dengan banyak suara mesin, kadang dibarengi dengan deras hujan. 3 tahun berkelanjutan, tiap malam hari menuju pulang, Cipaganti masuk ke list tempat bersendiri favoritku.

Kini 6 tahun berlalu, benturan itu masih selalu ada, hanya saja kini aku belajar untuk bisa tumpah ditempat yang tepat. Salah satunya; menulis.

Tuesday, December 15

Kembali

Aku akan membawa diri pada 8 tahun yang lalu, menulis, menulis, menulis dan menulis lagi. Tidak perlu mencari pembaca, justru menyelam di kedalaman, tenggelam, tak terlihat.

8 tahun ditambah beberapa tahun lainnya diblog yang lain, ternyata aku sudah cukup lama di dunia menulis ini. 5 tahun kebelakang, waktu ku habis dengan berkuliah. Pagi ke pagi ku habiskan dengan menggambar garis dan garis pada tumpukan kertas. Menulis sempat hilang dari waktu ku, yang biasanya selalu menulis dengan hanya melihat orang berbincang, tetiba berhenti.

Aku sekarang menjadi manusia yang membosankan, pergi pagi untuk bekerja tepat pukul 8 pagi dan pulang dengan manusia membosankan lainnya pada jam 5 sore. Ditambah, hasil sering menulis dalam bersendiri, aku menjadi manusia introvert yang mampu berbahagia hanya dengan berdiam sendiri di kamar. Makin membosankan, menurut teman-temanku.

Banyak sekali hal-hal tak terduga yang muncul pada dunia ku, keluarga, dunia kampus, teman, bahkan dunia kerja. Aneh, sungguh aneh. Tiba-tiba saja cerita hidupku beraduk-aduk, menghasilkan warna lain serta bersautan tak berhenti seperti gema.

Salah satunya, dalam 3 tahun aku selalu menangis bersama Papi, motorku. Meski tak ada tanggapan, tapi banyak cerita yang tertampung oleh Papi. Jika tak percaya, boleh tanyakan pada Jalan Cipaganti.

Akan aku ceritakan, kalo aku lagi mau.