Monday, September 27
Sehidup Semati?
Sunday, May 23
Sabar berarti banyak
Aku sudah paham, juga sudah membuktikannya sendiri, bahwa apapun yang aku inginkan pasti Allah kasih. Baik itu sesuai dengan yang aku mau ataupun dengan yang jauh lebih baik.
Kalo gitu, tugasku sekarang adalah meminta, sambil berikhtiar.
Aku yakin, apa yang aku mau tidak lebih berat dari sebuah debu bagi Allah. Bukankah jika memang baik untuk ku, dunia yang besar ini juga akan Allah berikan. Maka atas setiap ketidak mampuanku, Allah menahan segala hal yang sebenarnya akan membuatku berat.
Artinya, sekarang ini sesungguhnya adalah kondisi yang paling mudah untukku. Hanya saja aku sering lupa, bahwa aku ini kuat. Sehingga, hal yang sebenarnya mudah, enteng, kecil malah jadi hal yang terasa berat juga memberatkan. Dan artinya, sesungguhnya setelah ini akan Allah segera tunjukkan bagaimana rencana yang baik untuk ku.
Disinilah sabar berarti banyak. Sabar berarti yakin, sabar berarti kuat, sabar berarti paham dan sabar berarti kemenangan.
Jadi, bersabar, ya!
Sunday, May 16
Perempuan Nyemplung ke Proyek
"Hari kamis ini kita ke lapangan ya, Jam. Kita bakal ke 4 lokasi buat ngukur, sekalian cek kos Bogor", atasan ku berkata sebelum jam pulang.
Senang, karena setelah sejak Desember design-nya selesai, akhirnya bisa liat langsung proyek ku yang sebelumnya belum aku kunjungi akibat deadline yang terus-terusan.
Eh tunggu, 4 lokasi? Artinya ke lokasi lain yang juga dalam pembangunan tambah juga harus ngukur. Tiba-tiba kepikiran, "Aku kan sekarang pakai rok, merepotkan ga ya? Harus ngukur dan cek proyek lagi".
Kamis pun tiba, aku ga punya pilihan selain memaksakan dan percaya Allah pasti memudahkan aku dan orang disekelilingku. Karena ketakutanku adalah jika rok ku menghambat pekerjaan dan orang lain direpotkan karenanya.
Ini pekerjaan lapangan; ukur, tarik benang, cocokan dengan gambar. Stigmanya tentu ini pekerjaan laki-laki. Perempuan pakai rok? Repot.
Ternyata, 5 lokasi yang terkunjungi, semuanya berjalan biasa saja. Hanya tukang-tukang yang melihatku kebingungan mungkin ditambah rasa aneh.
Cek proyek; lancar. Ngukur; lancar, mudah dan tepat. Alhamdulillah, biasa saja. Hanya rok ku kotor terkena debu proyek, tapi saat ku liat teman kerja laki-lakiku, celananya pun kotor. Maka artinya, sama saja.
Baru aku sadar, ternyata aku hanya termakan stigma orang.
Saturday, May 15
Umur 25 Berharap Tabungan 100 Juta
Idealnya, usia 25 tahun sudah punya tabungan 100 juta.
Kalo kamu cuman bengong, mari kita bahas.
Beberapa orang dari kita, si golongan 25 keatas, akan bengong ketika tahu ternyata hidup ideal di usia 25 tahun adalah mengantongi uang 100 juta ditabungan. Nyatanya? Boro-boro. Padahal, kerja sudah banting tulang, sakit punggung sudah langganan, life style seadanya tapi 100 juta masih terasa jauh diujung sana.
Rasa tertinggal muncul kembali; Mungkin kerjanya kurang keras? Mungkin harus cari tambahan? Eh, ginjal masih dua, nih?
Ternyata, syukur kita yang kurang. Pandangan kita yang terlalu tinggi melihat ke atas. Visi kita yang belum kita genggam. Sedangkan orang-orang yang sudah sampai pada titik ideal itu mungkin sudah punya visi sejak awal. Sehingga, mereka menggenjot sejak awal pula dan menjadikan mereka layak mendapatkannya.
Maka visiku berbeda. Bagiku, hidup ideal adalah tentang ketenangan. Banyak orang yang mengantongi lebih dari 100 juta namun hidupnya tak tenang, ada juga yang umurnya tak sampai untuk menggunakan uang ratusan jutanya. Untukku, hidup tenang adalah idaman.
Ketenangan tak selamanya muncul dari digit tabungan. Justru muncul saat yakin atas rezeki yang memang sudah dicukupkan, sehingga yakin apa yang aku butuhkan pasti Allah mudahkan dari rezeki-Nya. Ketenangan muncul saat yakin takdir yang aku jalani sekarang adalah takdir terbaik ku, sehingga aku tak perlu merasa kecewa.
Hidup ideal adalah saat orang-orang berlomba memakai handphone keluaran terbaru tapi aku tak mengikutinya karena merasa tak butuh. Hidup ideal adalah saat aku bisa meninggalkan helm ku dimotor tanpa harus menentengnya kemana-mana dengan alasan takut diambil orang. Hidup ideal adalah merasa aman setiap bulan tanpa terpikirkan hutang-piutang. Hidup ideal adalah mampu membagi mana hak ku sendiri dan hak orang lain tanpa merasa takut kekurangan. Hidup ideal adalah hidup tenang atas rasa cukup.
Aku yakin beberapa dari kalian pasti insecure. Wajar, gapapa, memang manusia seperti itu. Tapi coba resapi lagi dan lagi. Mereka yang sudah di titik ideal itu mungkin harus berdarah-darah untuk mencapai titik idealnya. Sedangkan kita sudah diberi rasa cukup, maka itulah nikmat yang Allah berikan. Allah tidak mencondongkan hati kita pada dunia, justru Allah mencurahkan rasa cukup, sehingga kita selalu bersyukur atas apa yang kita dapat.
Jadi, selow aja. Yakini kita sudah ada di track yang benar. Benahi visi agar tak lagi merasa insecure atas pencapaian orang lain. Dan mari sama-sama berdoa, semoga Allah menambah tabungan kita 100 juta lebih tanpa kita harus berdarah-darah. Bersyukur harus, bermimpi juga harus pun doanya juga harus.
Pesanku, untuk diriku sendiri.

