My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Wednesday, December 20

Memberi Kabar

Hai! Sudah lama tidak menulis di sini. Ingin memberi kabar saja, bahwa aku tetap menulis. Meski kini tulisanku berpindah ke deskripsi Instagram atau ke dalam buku jurnalku. Aku tetap senang menulis. Sesekali aku mengintip beberapa tulisan di blogku ini, membuatku merasa sedang memutar film yang menayangkan warna-warna perasaanku saat aku membuat tulisan-tulisan itu.

Saat sedang takjub pada warna-warna yang pernah aku torehkan di sekaca kehidupan, baru aku sadar bahwa di tahun 2023 ini tak ada satupun tulisan baru yang muncul dan ter-publikasikan. Rasanya tak bisa dibiarkan, aku tak mau blog ini benar-benar hilang. Maka aku buat tulisan yang sekedar memberi kabar ini.

Berhubung 2023 ini akan berakhir dalam belasan hari kedepan, aku akan mencoba merangkum bagaimana kehidupanku di tahun 2023:

  • Awal tahun, ada sebuah teguran yang Allah berikan kepadaku. Aku kena saraf kejepit. Bener-bener ga bisa bangun, ga bisa jalan bahkan cuman mau pindah posisi tidur aja ga bisa. Sakit banget! Akhirnya sadar betul harus bisa sehat!
  • Di tahun ini akhirnya aku ikut kajian Ngeslow! Setelah ketinggalan 1 tahun dan 1 tahun skip karena aku kira kelasnya 1 bulan sekali ada, taunya 1 tahun sekali. Kelas yang bikin pandangan aku berubah, meskipun merealisasikannya perlu usaha lebih. Ayo semangat!
  • Aku mulai belajar masak di tahun ini, aku udah bisa bikin pindang merah ala mamah. Yashhh!
  • Sesuatu yang bikin aku kaget tahun ini adalah, Yogi ke rumah dan izin ke orang tua aku untuk bisa tunangan sama aku. Dan bulan Maret, akhirnya aku tunangan sama Yogi! Kayanya perlu satu tulisan khusus untuk cerita yang satu ini.
  • Setelah tunangan, aku sama keluargaku silaturahmi ke keluarga Yogi di Majalengka. Pertama kalinya aku kesana, seru!!!
  • Dalam rencana untuk menikah setelah tunangan, si Jamilah ini memutuskan untuk resign! Wow keputusan yang luar biasa!
  • Bulan Juni, Yogi pergi ke Jepang. Sedih banget rasanya, tapi aku malah lebih sedih pas liat mamah Yogi ditinggalin anak sulungnya. Semoga Yogi bisa cepet ketemu keluarganya lagi.
  • Setelah resign bulan Mei, aku menjadi pengangguran paling bahagia. Karena semuanya terasa enteng, bisa jajan, bisa main, bisa apa aja hahaha apa ini perlu aku ceritakan khusus? hihihi
  • Yang cukup berkesan di bulan Desember (meskipun Desember belum berakhir), aku ikut acara sendirian. Pertama kalinya si introvert ini ikut acara buku, dapet tanda tangan ibu Leila S. Chudori plus nonton film Laut Bercerita. Serunya lagi, aku dapet temen baru disana! Kayanya aku ketagihan deh buat ikut acara-acara lainnya.

Ya, begitulah kehidupanku yang sederhana tapi membahagiakan ini. Ternyata ada beberapa yang sepertinya seru untuk aku jadikan tulisan. Lain kali, kalo ga males, aku coba tulis disini.

Saturday, December 10

Pengakuan si Pengecut

Bertahun-tahun berprinsip jangan sampai merasa menyesal, hindari segala hal yang membuka pintu-pintu penyesalan. Termasuk berharap, karena dia adalah kunci penyesalan terbesar.

Segala pintu harapan dan keyakinan aku tutup rapat. Aku simpan di tempat yang jauh. Aku anggap ini adalah pintu terakhir yang belum pasti aku masuki.

Awalnya terasa membahagiakan, karena segala kebaikan menjadi sebuah kembang api yang megah dibalik segala perkiraan-perkiraan buruk. Pada setiap yang aku rasa akan gagal, akhir yang ternyata berhasil membuatku bahagia luar biasa.

Ini ternyata menjadi sebuah kebiasaan, memperkirakan hal yang paling buruk menjadi keahlian. Aku menjadi mahir.

Pada suatu hubungan; Aku sepertinya akan disakiti, waspada; Hubungan ini akan gagal, waspada.
Pada suatu pekerjaan; Sepertinya hasilnya akan jelek; Sepertinya aku kurang mahir.
Pada sebuah pertemanan; Sepertinya aku bikin mereka malu.

Pemikiran seperti ini muncul di segala aspek. Pemikiran yang sebenarnya belum tentu ada namun aku buat nyata di depan mata. Tumbuh dan membesar. Membuat aku ciut dan takut. Segala hal membuatku gemetar, kakiku lemah ketakutan, tanganku kaku membeku dan tentu jantung yang berdebar. (Ini betulan, banyak terjadi di meja kerja)

Aku baru sadar, ternyata aku ini pengecut. Takut pada penyesalan sampai membiarkan diri menjadi seseorang yang pesimis, membiarkannya tak percaya pada segala kebaikan, membuatnya merasa pantas direndahkan, diinjak dan perlakuan lain yang tak seorangpun pantas mendapatkannya.

Setelah banyak berprasangka buruk, segala kegagalan tidak menjadi kurang menyakiti. Kegagalan tetap menyakitkan, tetap perih, tetap menusuk. Lalu kenapa aku tetap memilih menjadi orang yang seperti ini?

Wednesday, December 7

6.45

Aku menangis sambil berkata "Aku ga mau nikah, Mah"

Jawaban Mamah buat aku berpikir tentang bagaimana sayangnya Ia padaku, dari gerak-geriknya, dari tutur bahasanya, pula dari jeda sebelum Ia menjawab pernyataan yang cukup tegas dariku tadi.

"Jangan gitu, nikah itu wajib. Sieun dosa", jawabnya pelan, lembut, tenang sambil tangannya mengusap tanganku yang sedang memeluknya.

Sungguh jawaban klise, kan? Tapi dari sana, ada sesuatu yang tersembunyi. Ada perasaanku yang Ia validasi, yang Ia mengerti, yang Ia hormati. Bahwa Ia mengerti bagaimana aku sakit, bagaimana ini menjadi luka untukku dan bagaimana aku begitu takut tentang pernikahan.

Karna jika bukan takut dosa, Ia pun akan mengizinkan, yang penting aku tenang.

Tuesday, November 23

Mamah dan ikhtiarnya


Mamah, dalam ikhtiarnya untuk sehat.

Setiap hari aku selalu menduga-duga, bertanya dengan penuh ketakutan, "apakah hari ini?".

Setiap hari pula aku penuh keyakinan bahwa sehabis ini hidup ku dan mamah akan berbahagia.

Mamah dalam ikhtiarnya, aku dalam kecemasan dan hampir menyerah.