My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Saturday, October 6

Benciku Merindukanmu

"Awalnya aku ingin membencimu, dan lalu melupakanmu"
"Kenapa ?"
"Sikap mu. Sikap mu kotor melebihi sampah"
"Lalu mengapa kamu, detik ini, masih duduk di samping orang bersikap sampah"
"Aku merindu. Itu menjadi kekhasan yang kamu miliki"

Rindu. 
Katakan padanya aku merindukannya.
Aku mohon berbisiklah padanya.
Aku butuh dekapannya.

Rindu.
Pertemukan aku pada bayangan.
Tikahkan aku dengan kebahagiaan.
Culik aku ke dalam kesunyian.

Tuesday, June 19

selamat datang Juni

Juni yang lalu, masih tercium bau parfum dari kaos hitam, masih terdengar pekikan tawa dari canda-canda yang membunuh kesunyian, masih pula terdengar langkah-langkah kaki yang menjauh pergi.

Di Juni sore lalu, tak hanya bayangan yang menjadi teman. Kau menjadi satu pelabuhan bagi ku. Melangkah bersama mengantarkan ku dalam dekapan menuju batas pemisah.

Masih di Juni lalu, ketika kita masih dapat bertatap muka, kau menjadi teman penghapus air mata. Ketika tangan mu masih menjaga ku pada malam-malam kelabu.

Wahai cinta terindah, aku masih dapat melihat mu walau seperti yang kau katakan, aku dapat melihat mu "meski dalam mimpi yang kata orang semu". Dalam mimpi yang menggantung semu, aku merasakan dekapan hangat tangan seorang penjaga hati. Aku melihat raut wajah seorang  pemimpi dengan kucuran peluh. Aku masih dapat melihat mu, meski dalam mimpi yang kata orang semu.

Aku tahu, malam akan selalu gelap, tapi siang tak selamanya terang. Aku berkata begitu lugu seperti siang yang sendu. Kini tangis tak lagi menjadi pelepas sakit, meskipun kau menangis menjerit-jerit. Kata bukan lagi pengungkap rasa. Hanya mimpi yang kata dia, mereka dan dirimu semu, yang menjadi satu tempat peraduan kisah cinta antara seorang Romeo dan Juliet.

"Kau masih ingat ketika tangan mu menggenggam tangan ku, ketika kita berada di batas waktu ? Aku tak mau melepasnya. Saat itu aku benar-benar ingin menangis dan aku benar-benar tak mau merasa sendiri". Kau hanya diam, menunggu angin berhenti berhembus, dan berucap "Kita pasti kuat, sayang".

Kesendirian masih menjadi sebuah momok bagi ku, menjadi sebuah rasa sakit yang menyayat hati, kepercayaan dan cinta seorang kekasih. Namun kau, penjaga hati, menjadi sebuah obat bagi luka-luka sayatan yang bercucuran darah merah kental.

Bukankah cinta ini tak pernah mati meski terkubur dalam hati ? Bukankah kita masih dapat bercumbu di mimpi-mimpi penenang hati ?

Wahai cinta yang berada jauh, tunggulah para bidadari yang mendekap rindu seorang kekasih. Sajikan secangkir cinta pada mereka dan bawalah rindu yang mereka dekap. Peluk lah rindu ku yang pasti kian memburu. Aku menunggu bersama bayangan hangat, bersama cinta yang teraduk dalam secangkir rindu.

Satu, dua, tiga, empat, lima hari aku lalui dengan kepercayaan penuh dan dengan kenangan yang kudekap dalam hangatnya senja. Satu, dua, tiga, empat, lima minggu kau menjadi pengatur hati dikala siang yang terang dan di malam yang padam. Dan kini, di dua belas bulan ini, kau dan aku mengecup kata, memeluk suara, dan membentang rindu.

Jingga cakrawa membentang disepanjang pandangan, awan-awan yang putih kini meoranyekan diri. Saatnya menutup pintu dari dinginnya malam yang dijemput senja. Tetaplah menunggu para bidadari pembawa rindu, mari kembali menghitung waktu yang berlalu. Aku tetap rindu mencintaimu.

Rindu yang tak pernah mati
Dalam Juni yang dinanti

Sunday, June 10

Umur mempengaruhi cinta kita ?

"Kau lelah, Rosa ?"
"Tentu tidak, mereka membuat ku tertawa seharian ini"
"Jangan terlalu bersemangat seperti itu, kita sudah tak muda"
"Aku tahu, tapi mereka membuat ku seperti muda kembali"

Seperti biasa, Rosa pasti akan mengatakan itu. Aku tau, mereka, anak-cucu kami, akan membuat Rosa berbahagia. Pagi tadi anak kami satu-satunya datang mengunjungi ku dan Rosa dengan suaminya dan 2 anak laki-lakinya. Senyum yang mengembang timbul di wajah Rosa bersama keriput-keriput wajah yang mulai menampakan dirinya. Bermain bersama cucu-cucunya akan membuat Rosa bahagia, aku tahu itu.

Sudah 34 tahun kami bersama, menitik hari demi hari dengan cinta yang tumbuh berkembang. Bukan hal yang mudah untuk dapat bersama-sama selama 34 tahun, itu bukan waktu yang singkat. Aku harus banting tulang untuk dapat membahagiakan Rosa yang muda sampai menjadi Rosa yang berumur seperti ini. Dan dia, Rosa, selalu berusaha membuatku nyaman, bersemangat, dan selalu tetap mencintainya.

Aku tahu akan ada perpisahan diantara aku dan Rosa, dan aku juga tahu bahwa tak ada perpisahan yang indah. Dimanapun kau bernafas, berdiam diri bahkan berlari, perpisahan merupakan kesedihan yang tak bisa dihindari. Aku dan Rosa tak menginginkan perpisahan, siapa yang mau berpisah dengan orang yang mereka cintai ? Karena aku tahu perpisahan itu akan datang, aku selalu berterimakasih ketika Rosa, wanita yang sangat ku cintai masih tetap berada di samping ku. 

"Cinta diantara kita masih tetap ada kan, Rosa ?"
"Hahahaha, kau bicara tentang cinta ? Pada umur 61 tahun?"
"Apakah umur mempengaruhi cinta kita ?"
"Kau berkata apa, Erik ?"
"Apakah cinta diantara kita masih ada ?"

Aku serius bertanya hal ini pada Rosa, tapi dia hanya terdiam. Aku tak mengerti apa arti dari kediamannya, banyak kemungkinan. 'Mungkin dia bingung', 'Mungkin dia sedang berfikir', 'Mungkin dia lelah', 'Mungin dia malu untuk berbicara', 'Atau mungkin jawabannya adalah ; Tidak'. Aku mulai tak mau menebak, aku hanya menunggu sampai Rosa berbicara.

"Kau masih ingat dengan lagu di masa muda kita berdua, Erik ?"
"Lagu ?"
"My first love, you're every breath that I take, you're every step I make. Ingat ?"
"Hahaha, ya aku mengingatnya. Ketika akhir pesta pernikahan kita bukan ?"
"Iya, ketika kita berdansa di tengah-tengah kebahagiaan"
"Kau mau mengulangnya lagi, Rosa ?"
"Dengan senang hati, Erik"

Aku berdansa dengan Rosa, persis ketika muda dulu. Walau dia sudah berumur, berkeriput, tapi kecantikannya tak pernah terhapus. Aku mengerti sekarang, tak ada setitik cinta pun  yang mati diantara aku dan Rosa. Rosa, you're my first and my last love.

And I, I want to share all my love with you

No one else will do
And your eyes
They tell me how much you care
You will always be
My endless love

Sunday, April 22

Yes, I will Tio

Aku tak bermain dengan perasaan ini, yang sebenarnya terjadi adalah perasaan ini yang mempermainkan ku. Aku bisa menghancurkan segalanya agar perasaan ini tetap utuh, aku tak mau ada goresan walaupun itu hanya secuil. Perasaan ini memang datang begitu saja. Jujur, aku tak pernah mengharapkannya datang. Dia sendiri yang membuka pintu dan masuk begitu saja.

Sedikit tertawa membaca secarik surat darinya, aku tak menyangka dia bisa merangkai kata-kata. Dia menulisnya dengan tangannya sendiri, tulisannya begitu rapih. Aku kira dia memang berniat untuk menulis surat ini. Ditambah surat yang dibuatnya untuk ku itu sedikit berbau parfum yang sering dipakainya setiap hari.

Seperti para Arjuna lain, mereka akan menyeberangi lautan dan mendaki gunung untuk para wanita yang mereka cintai. Tapi aku akan melakukan lebih. Aku akan membelah langit, melukis pelangi, menebar butiran-butiran hujan ketika kau bermain dengan ku  di taman sebelah rumah mu. Ya aku tahu kau akan menganggapnya sebuah gombalan saja. Tapi bagaimana jika aku sekarang mengetuk pintu kamar mu dan menarik mu untuk pergi ke taman itu. Hanya bayangkan saja, karena aku tak mungkin melakukannya. Aku masih ada di Eropa sekarang.

Dia memang berada di Eropa, sedang menyelesaikan kuliahnya. Dan aku memang sedang membayangkan ketika dia mengetuk pintu dan menarik ku ke taman sebelah rumah. Berpiknik dengan langit yang biru dan angin yang selalu berbisik, seperti mengucapkan "He loves you, Nenet".

Hey, apa kau ingat saat kita duduk bangku restoran ? Menatap pemandangan yang ada di bawah restoran ? Ketika kau berkata "Tio, I love you. Stay here with me" ? Kau tahu ? Aku menahan tawa saat itu. Kau tak pantas berkata seperti itu, tak ada sifat romantis pada dirimu ! Kau hanya memaksakan, Nenet. Tapi aku suka.

Berbulan-bulan di Eropa membuatku merindukan mu. Aku rindu dengan tangis mu, dengan sifat manja mu, dengan celoteh mu, dan dengan rambut lembut mu. Hal yang paling ku rindukan adalah kecantikan mu, aku suka mata mu, hidung mu, pipi mu, bibir mu, halis mu. Aku suka dirimu.

Aku akan pulang dalam beberapa hari lagi, kau tetap menunggu, kan ? Aku mempunyai beberapa hadiah untuk mu. Ada sebuah gitar untuk mu, aku membelinya khusus hanya untuk mu. 

"Aku juga merindukan mu, Tio" Jawab ku, berharap dia mendengarnya. Sudah berbulan-bulan aku tak bertemu dengannya, dia sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya dan aku pun begitu. Kata terakhir yang dia katakan sebelum pergi adalah : "Aku akan merindukan mu, Nenet. Tunggu aku, jangan nakal".

Nenet, kau pernah membayangkan saat kau memakai gaun putih dengan serangkaian bunga di genggaman tangan mu dan kau berjalan menuju pelaminan ? Kau pernah membayangkan ? Apa kau menginginkannya ? Jika kau mau, aku siap menunggu mu di pelaminan dengan jas hitam ku.

Terkejut membacanya, dia berkata pelaminan ? Dia sedang berbicara tentang pernikahan. Tentang sepasang manusia yang mengucapkan janji sehidup-semati. Aku tak tahu apa Tio serius dengan perkataanya atau tidak. 

Aku bicara serius, sudah ku bilang aku tak bermain dengan perasaan ini. Kau tahu pantai yang ada di utara rumah mu ? Bagaimana jika nanti kita berlibur disana saat aku pulang nanti. Akan aku bawa gitar yang menjadi hadiah mu dan akan aku bawa sebuah gaun putih yang sudah aku rancang untuk mu. Aku yakin kau akan terlihat lebih cantik memakainya.

Dan tak lupa aku akan membawa sebuah cincin dan akan aku pakaikan di jari manis mu. Dan aku akan bertanya "Will you marry me ?"
 Aku tunggu di pantai. I love you, Nenet

Dia mengucapkannya ? "Yes, I will Tio. Love you too"

Surat beramplop merah
22 April 2012