My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Saturday, June 8

Bianglala #1

Aku selalu berfikir, malam dimana langit diterangi cahaya bulan dan angin yang dingin adalah momen termanis untuk wanita. Tentunya jika ada seorang laki-laki. Tapi bagiku, ini menjadi momen yang paling sulit.

Sudah lebih dari 1 bulan aku dan Duto dekat, dia lebih tua 2 tahun dari ku. Dia memang dewasa, tapi terkadang kekanak-kanakannya muncul. Bahkan pada waktu yang tidak tepat. Aku kenal Duto dari sepupuku, Aldi. Dia mengenalkanku dengan Duto, lalu berbagai cerita muncul. Seperti itulah, sama seperti cerita remaja lainnya.

Malam itu dia mengajak ku bermain ke sebuah pasar malam, dan dia menyadari apa yang harus ia lakukan untuk mengajak ku pergi. Awalnya, aku ragu Duto akan berani meminta ijin kepada orang tua ku. Namun, dialah Duto, yang berani mengucap sumpah serapah agar orangtuaku percaya bahwa Duto akan menjaga ku dengan baik.

Aku masih mengingatnya, sweater berwarna coklat, dan wanginya yang khas. Aku masih mendengar bagaimana suara jantungnya yang berdentum. Dan aku juga suka dengan suaranya yang serak.
Setelah aku dan Duto saling mengenal, dia selalu mengirimku sebuah pesan. Tidak siang, tidak malam, handphone ku selalu berbunyi, pertanda pesan berisi ucapan selamat pagi, selamat malam, sudah bangun ?, sudah tidur?, selamat belajar, happy Monday, happy Sunday, bahkan kata hello-pun sampai. Risih.

 “Berani juga bilang ke papah, To”
“Duto kan cowo, wajib berani demi berkencan dengan sang putri”
“Apasih, sudah tidak musim tau gombal itu”
“Ga pake jaket ?”
“Engga ah males”
“Masuk ke rumah, ambil jaket, baru kita pergi”
“Dutoooo”
“Now or never ?”

Setelah itu, setelah aku satu kata pun tak pernah membalas pesan Duto, dia tak pernah mengirimiku pesan. Aku pikir dia cape, atau mungkin bosan. Namun, di akhir pekan, Aldi datang ke rumah bersama Duto. Di hari itu aku berbincang, bercanda, belajar bahkan menonton film bersama. Hanya hari itu, namun begitu bahagia.


Aku mengerti, jika seperti ini kejadiannya, cerita ini akan berlanjut panjang, namun akan berhenti di satu akhir cerita yang sama.

Saturday, April 27

Kematian

Aku selalu merasa bahwa kita semakin dekat ketika detik demi detik terlewati. Dan ketika detik itu berhenti, kita telah bertemu. Pertemuan kita akan menjadi pertemuan yang pertama. Maka, beri aku kesan yang baik.

Aku tahu, Bapak.

Meski jarang berucap, meski selalu menunduk, meski tak pernah naik darah aku tahu engkau selalu berdzikir, berdoa kepada Allah dengan cara mu sendiri. Meski kita jarang bertukar cerita, aku mengerti bahwa engkau berbisik kepada Allah agar aku mengetahui apa yang kau inginkan. Meski engkau tak pernah memeluk dan memberi ku selamat saat aku mendapat kesuksesan, aku tahu engkau selalu berterimakasih kepada Allah atas kesuksesan yang ku dapat. Dan meski engkau tak pernah memeluk dan mencium diriku, aku tahu betapa takutnya engkau kehilangan ku. Bapak, terimakasih.

Sunday, January 27

Tamu Tak Diundang

Ketika upacara pengundangan senja tadi, tamu tak diundang datang dengan wajah yang tak lagi ku kenal. Aku tak sanggup menerawangi sosoknya, yang aku tahu dia memakai kemeja kuning. Cerah, namun tak secerah mood ku untuk melihatnya. Seharusnya nyanyian si Maudy Ayunda yang berjudul Tahu Diri dikumandangkan waktu itu.