My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Sunday, July 30

Untuk Rumah No. 31

Menonton televisi bersama setelah shalat isya sampai waktu tidur tiba menjadi hal yang paling aku rindukan saat ini. Menyaksikan acara yang membuat kami tertawa atau bahkan menangis menjadi hal yang ingin aku ulangi. Sehari saja, tidak apa-apa.

Minggu pagi, menyantap pisang goreng buatan bapak dan secangkir teh manis hangat menjadi hal yang sulit ditemukan sekarang. Buatan bapak selalu enak, pisang goreng itu tadi atau bahkan hanya sekedar tahu dan tempe goreng, rasanya enak! Bahkan mamah harus mengaku kalah kalo soal rasa pisang, tahu dan tempe goreng. Kalah telak.

Meskipun selalu kalah dan menangis, aku merindukan bagaimana jahilnya kakak-kakak ku. Bagaimana mereka begitu seenaknya dengan adik bungsunya ini, melempar bantal, mengunci ku di dapur, meledek ku, mengguyur ku dengan air dingin, mencubit ku dan hal lainnya yang sekarang malah ingin aku dapatkan lagi.

Sekarang, rumah ini tidak sehangat dulu. Kata mamah, kalo magrib rumah ini terasa sangat sepi. Makanya setiap mau magrib mamah suka whatsapp, sms atau telfon dan bertanya kapan pulang. Kasihan, mamah sekarang sering sendiri di rumah.

Ingin rasanya kembali melakukan banyak kenangan itu di rumah ini, tapi ternyata waktu memakan semua kenangan itu. Tidak ada menonton televisi bersama lagi setelah isya, kami tetap melakukan kegiatan masing-masing di kamar kami sendiri. Minggu pagi tidak ada pisang goreng dan teman-temannya, hanya ada teh yang dinikmati di kamar masing-masing.

Tidak kah kamu merasa kedinginan, wahai rumahku ?
Dari, yang 10 tahun sudah tidur di kamar bercat pink.

Tuesday, February 28

Lagi-lagi, Sedih.

Terkadang kesedihan memang harus dinikmati. Kamu harus menangisinya, berteriak sekencang-kencangnya lalu menangis lagi. Tak usah ditahan-tahan hingga sengaja membuat bendungan untuk air matamu sendiri. Jika kesedihan mu sedalam lautan, maka menangis sejadi-jadinya akan membuat kesedihan itu tenggelam lebih dalam dan akhirnya karam.

Aku sempat semalaman penuh tak terpejam hanya untuk meratapi kesedihan ku sendiri. Namun, hidup tidak melulu soal sedih, duka, sendu dan yang seperti itu lainnya. Terkadang yang sederhana pun mampu membuat kita lupa akan kesedihan yang begitu dalam. Tidak apa-apa jika harus bermuka dua dimana dihadapan orang bahagia mu seakan tak terhingga namun sesungguhnya ada kesedihan yang kamu sembunyikan.

Mungkin memang sudah seharusnya orang lain tidak mengetahui kesedihan kita masing-masing. Simpan saja sendiri karena Tuhan pun yakin kita yang mempunyai kesedihan ini mampu melewatinya. Ingat, Tuhan sangat amat yakin hingga kesedihan ini Ia berikan pada kita.

Tuesday, November 15

Keluh Gelas

Gelas ini awalnya kosong, tak terisi, hampa.
Lalu kamu, kemarin, mengisinya dengan apa yang kamu bilang sebagai kasih sayang.
Setetes demi setetes kasih sayang itu mengisi gelas ku yang kosong.
Lama-kelamaan gelas ini penuh oleh kasih sayang mu hingga meluap.
Sekarang, seperti orang yang kehausan kamu meminum-nya hingga gelasnya kembali kosong.
Tertinggal setetes-dua tetes kasih sayang mu disana.
Mengering dan membekas.

Thursday, September 1

9/12

Mari kuperkenalkan pada satu bulan diantara bulan-bulan lain disetiap tahun. Aku begitu dekat dengannya, tapi tidak lagi sekarang. Dia genap 30 hari, pas tidak lebih satu hari seperti Januari, Maret dan teman-temannya, tidak pula egois hingga memotong hari seperti Februari. Biasanya dia hanya bersama matahari karena tidak terlalu dekat dengan sang hujan.

Namanya September dan kudengar dia baru datang pagi tadi. Dulu sempat aku menunggu kedatangannya, tapi sekarang aku malah menunggu kepergiannya. Sudah kubilang, aku tak lagi dekat dengannya. Alasannya sepele, ini semua karena September memiliki hari kelahiranku.

Tepat di hari pertama September ini aku kembali bertanya-tanya untuk apa aku ada ? Apakah hanya ada untuk dilahirkan lalu dengan begitu saja mati dengan tubuh-tubuh yang lain ? Rasanya, setelah sekian kali bertemu dengan September, tak ada yang istimewa yang pernah aku hasilkan. Maka ketika September kembali datang dan aku masih tak menggenggam apa-apa, bukan kah seharusnya September kecewa ?

Harusnya dia marah; "Sudah kupinjamkan satu hari agar kamu bisa menapaki bumi tapi tak ada apa-apa ditanganmu sekarang, dan tahun lalu, dan tahun lalu juga. Kemana saja kamu ini ?!". Tapi betapa baiknya September yang tak pernah marah ketika satu hari dari 30 harinya aku pinjam. Dia selalu menyapaku di tanggal 1 dan berpamitan di tanggal 30, "Semoga kita bertemu lagi".

Maafkan aku, September. Hanya saja aku kecewa pernah lahir dan kekecewaannya semakin bertambah dari hari pertama mu hingga hari terakhir mu. Tidak, bukan kecewa pernah lahir di satu hari milikmu, hanya saja aku belum bisa temukan alasan mengapa aku bisa bernafas selama ini, berjalan berjuta-juta langkah, dan bertemu dengan mu berkali-kali. Sepertinya, aku tak lahirpun tak jadi masalah.

Tapi tidak apa-apa, September. Mari masuk dan minumlah teh bersamaku, 29 hari lagi, bukan ?


Thirty days have September
April, June and November
Thirty-one the others date
Except, in February twenty-eight
But in leap year we assign
February, twenty-nine

-Thirty days hath September