My photo
Mencari jawaban yang tertindih reruntuhan.

Thursday, July 4

Teringat Yang Telah Hilang

Ambu sedang duduk di depan rumah ditemani sang surya yang mulai malu-malu. Ambu duduk dikursi rotan sambil menyapa tetangga yang lewat di depan rumahnya. "Mau kemana? Masuk dulu sini!", teriak Ambu pada mereka yang melewati rumahnya. Ada beberapa yang menjawab sambil memberhentikan langkahnya sehingga tercipta obrolan kecil dari balik pagar. Ada juga yang hanya menjawab "Nanti saja ya, Ambu!" sambil terus berjalan. Tapi Ambu tetap duduk di kursi rotannya.

Surya semakin malu-malu, membuat langit menjadi merah kejinggaan. Kini didepan rumahnya hanya dilewati oleh kucing-kucing tak berkalung. Mereka berlari dan terkadang hanya meringkuk lelah. Ambu lalu mengambil secangkir teh, tanpa gula, dari meja di samping kursinya. Saat akan meminum tehnya, tiba-tiba air matanya mengalir. Ambu teringat yang telah hilang.

Ambu harus menyimpan kembali cangkir tehnya sehingga ia bisa menyapu tetesan air matanya. Ambu tak mau menjelaskan apa yang dipikirkannya ketika seseorang bertanya ada apa padanya. Lalu Ambu menatap langit yang kini menjadi merah gelap. Di atasnya terlukis wajah yang samar karena sudah 20 tahun tak terlihat lagi. Yang terlihat jelas hanyalah belahan rambutnya juga kaos bergambar kucing diatas sebuah kapal yang terakhir dikenakan.

Setiap sore, Ambu akan duduk di depan rumah, berharap yang dinantikan kembali pulang. Buah hati, satu-satunya, yang entah kemana 20 tahun silam. Ambu mencoba untuk selalu tegar, meskipun hatinya meronta-ronta ingin mengetahui kemana anak umur 6 tahun itu pergi. Ambu tak pernah mengganti cat rumahnya, bentuk rumahnya pun masih sama. Ambu yakin anaknya akan pulang, sehingga ia harus mengenali rumah yang pernah ditinggalkannya.

Seingat Ambu, anaknya hanya bermain mobil-mobilan di depan rumah. Ambu menyaksikan keasyikan anaknya di kursi rotan yang sama 20 tahun lalu. "Kami sedang menunggu Abah pulang", kata Ambu setiap menceritakan detik-detik kehilangan anaknya. Namun saat itu, teh di dalam cangkirnya habis, sehingga Ambu harus mengisi kembali cangkirnya di dapur. Saat akan kembali ke teras rumah, terdengar suara pagar terbuka. Ambu mengira itu Abah yang membawa ayam goreng pesanan anaknya. Ternyata tidak ada siapa-siapa, hanya ada mobil mainan dan juga pagar yang terbuka. Ambu kehilangan.

"Sudah mau magrib, Ambu... Ayo siap-siap shalat magrib...", suara yang bergetar memanggil Ambu bersama tangan yang merangkul pundaknya. Abah dengan lembut mengusap pundak Ambu, memberi ketenangan pada Ambu yang hatinya hampir saja runtuh. Meskipun enggan untuk mengakhiri penantiannya, Ambu tahu semua ini sudah ditakdirkan. Maka Ambu beranjak dari kursi rotannya dan memasuki rumah untuk menyampaikan doa. Karena Ambu tahu pula, bahwa doanya akan menjadi makanan jika anaknya kelaparan, doanya akan menjadi selimut jika anaknya kedinginan, dan doanya akan menjadi penerang jika anaknya sudah mencapai barzakh.

Tuesday, March 19

Setelah ini, ada apa, ya?


Selama proses, aku sering mengeluh, sering merasa lelah bahkan sering ingin menyerah. Tidak menyangka bahwa prosesnya akan seberat itu. Tidurku kurang, mainku kurang dan uang jajan juga berkurang karena harus aku sisihkan untuk print gambar. Menyebalkan karena kadang iri dengan instagram stories teman-temanku yang isinya menggambarkan asiknya ngopi bareng. Rasanya ingin berhenti, tapi selalu malu dengan orang tua dan teman-teman yang selalu menyemangati. Kini, rasanya begitu manis karena ternyata aku bisa melewatinya.

Setelah ini, ada apa, ya?

Wednesday, February 6

Kini, aku hanya bertumpu pada diriku sendiri.
Mulai kini, harus bisa menerima diri sendiri. Meski sulit.
Menjadi baik untuk diri sendiri.
Karena baru disadari, aku hanya sesal bagi orang lain.

Saturday, December 29

Lelaki Baik


Dia lelaki baik, mau mengalah, mau mengantar dan sering memuji. Tapi, dia juga suka marah-marah. Apalagi soal signal atau baterai handphone yang sama-sama susah diajak kerja sama.

Dia lelaki baik, mau mewujudkan mauku. Tapi, "kalo aku bisa, ya" katanya. Buktinya dia mau pakai kumis, meskipun terkadang dia mencukur habis kumisnya. "Nanti juga tumbuh lagi", katanya lagi.

Dia lelaki baik, mau hujan-hujanan hanya untuk memberhentikan angkutan kota untukku. Meskipun terkadang kami batal bertemu karena dia tidak mau hujan-hujanan.

Dia lelaki baik yang terkadang menyebalkan. Lelaki baik memang tidak harus selalu baik. Kan, lelaki baik juga punya ego. Lelaki baik memang memberi kesempatan pada wanitanya untuk bisa menjadi wanita baik untuknya. Aku, wanita baik bukan, ya?

Terkadang suka malu sendiri, karena ego ku masih jauh lebih tinggi dari ego yang lelaki baik itu miliki. Terkadang juga suka aneh, ko lelaki baik itu masih menjadi lelaki yang baik saat wanitanya 'gak baik-baik amat'. Aku bahkan lupa kapan aku mengalah dan kapan aku memuji. Tapi karena dia lelaki baik, kekuranganku bukan sekedar dia terima, tapi dia bantu untuk memperbaiki.

Lelaki baik menurutku dan lelaki baik menurutmu tentunya akan berbeda. Jadi, jangan mengharapkan lelaki baik yang orang lain punya, ya.